Impossible is Nothing is Impossible

“Impossible is nothing” atau “tidak mungkin itu bukanlah apa-apa”, dan kebalikannya, “nothing is impossible” atau “tidak ada yang tidak mungkin”, maksud sama, beda-beda tipislah, yang ingin mengatakan impossible sesungguhnya tidaklah perlu ada! Keduanya mengecilkan peran impossible; keduanya diungkapkan oleh 2 orang di 2 era yang berbeda. Menarik juga, dibolak-balik bisa sama, ya. Jadi, Impossible is Nothing is Impossible, atau, Nothing is Impossible is Nothing? Hehe… setali tiga uang.
” Impossible is just a big word thrown around by small men who find it easier to live the world they’ve been given than to explore the power they have to change it. Impossible is not a fact. It’s an opinion. Impossible is not a declaration. It’s a dare. Impossible is potential. Impossible is temporary. Impossible is nothing.” (John C. Maxwell, penulis & motivator Amerika.)
“ Tidak mungkin atau impossible, adalah ungkapan yang terlontar dari sebagian orang untuk menikmati hidup di dunia sebagai anugerah (sehingga tak perlu repot-repot), dan tidak berupaya menggali daya yang tersembunyi di dalam diri mereka, untuk mengubah hidupnya. Impossible bukan kenyataan; impossible hanyalah sebuah pandangan (sempit). Impossible juga bukan pernyataan; impossible adalah sebuah keberanian (untuk berubah dan mengubah). Impossible adalah daya (yang bisa mempengaruhi orang), sifatnya hanyalah sementara (sampai ada orang yang berani mengubahnya). Impossible bukanlah apa-apa! ”
“There is nothing impossible to him who will try.” (Alexander Agung)
“ Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang (berani) mencoba” (dan tidak pernah jera dan mau berhenti sebelum berhasil!).
Sayang hanya sedikit saja yang sanggup membuktikan impossible itu tidak perlu ada. (Jadi istilah impossible ter”paksa” ada karena tetap diperlukan oleh yang lain. Hehe… aya-aya wae.) Munculnya kaidah 20/80 Pareto (baca artikel “Memulai Berpikir Positif “), hasil survai yang hanya 2% orang penduduk dunia saja yang mengendalikan 50% kekayaan dunia, kisah sukses Archimedes, Thomas Alva Edison, kolonel Sanders (ada yang belum kenal?), Soichiro Honda, Tirto Utomo, dan generasi baby boomers (orang kaya dunia, nantilah ceritanya), hanyalah indikasi keberadaan impossible “coret” (impossible).
Semua kata berkurung adalah tambahan saya untuk memperjelas. Kedua ungkapan sama bagusnya, banyak dipakai semboyan dalam dunia olahraga, musik, spiritual, dan lain-lain. (Lihat YouTube). Saya lebih coock ungkapan ke dua yang meski tidak diucapkan, temuan dalam dunia rekayasa atau enjiniring seperti hasil kerja keras idola saya Soichiro Honda, sudah cukup berbicara. Gambar kartun di atas juga sama.
Sanggupkah saya membuktikan blog sesuai impian saya? Hehe.., belum tahu, tetapi nothing is impossible. Ya, ‘kan? Ya, ‘kan? Paling tidak itulah modal awal yang saya percayai penuh untuk memulai bloging ini…
[1] Banyak motivasi bagus John Maxwell ada di sini
[2] Kata motivasi Alexander The Great diambil dari sini
[3] “World Without Engineers”, Agilent Technolioges, gambar kartun hi-res dan screen saver


Sukses aja mas ya buat blognya.dan ada sedikit sarang buat mas nh.kash dunk redmore tiap tulisannya biar waktu loadingnya kaga lama mas,sekaligus lebh ringan untuk mengakses blognya dan juga nampak praktis tamipilan blognya.salam blogger.
Usul diterima, maklumlah semua dikerjakan bertahap. Sama seperti mas Jumal, otodidak. WordPress juga belum dikuasai semua, belajar sambil berjalan. Terimakasih, mas Jumal yang mengusulkan blogwalking, ‘nih jadinya. Sekarang readmore. Tunggu sebentar lagi readmore-nya, ya.
The nature of the positive thinking approach is that it relies on self suggestion. Trouble is, a positive outlook on things may not last. Especially when a person’s emotional biorhythm is on the downslope. Positive reinforcement is at most times, a good thing which will spur productivity. However, something all so positive can seem to be impossible when a person is down and out.
Having one foot on positivity and one foot on reality is a good balance.
And perhaps, a more stable approach can be achieved by utilising confidence as the source of power instead of pure positive thinking.
Which reminds me, have you read Malcolm Gladwell’s Outliers? It’s a good book that analyses success from a balanced viewpoint; taking into account both the personal power and also the social conditions surrounding persons.
Anyhow, this entry was a good read. Good stuff. Hope to see more and perhaps in depth articles in the future.
Callighan, your comment was simply wonderful! Thanks you so much. Unfortunately I didn’t have the chance to read the book. I might, someday. Please do me a favor to post one special article for readers with simple english easy for them to follow. It is my honor to have you on my blog. No preference on topics, I leave it to you, pokoknya “nyeni”. Please… (sorry, for the broken english.)
Okie day. Saya coba susun dulu ya.
Kalau sempat, silahkan main ke http://callighan.wordpress.com/
Drop a comment, or two if you will.
Thanks a lot, Sir! You have an unsual blog, I may give unusual comments as well… (be balanced as you said.) Hehehe…
Setuju Mas…,
Hanya bermain dengan dua kata saja bisa membuat motivasi yang menarik.
Cara yang cerdas.
Hehe… kebetulan saja ‘kok. Terimakasih kunjungannya.
wow.. bagus sekali blog nya..
it’s all about possitivity..
terimakasih mbak Gessi… positif thinking, bukankah sudah seharusnya demikian? Diledekin senyum, dapat nilai C (dulu) senyum, sakit kecapean, senyum… hehe. Blognya mbak Gessi juga bagus, baru saja berkunjung ke sana, kasih tahu dong bagaimana cara memberi komentarnya?