Impossible is Nothing is Impossible
disempurnakan 11 nov 2010.

“Impossible is nothing” atau ‘tidak mungkin itu ..keci.il’, kebalikannya, “nothing is impossible” atau ‘tidak ada yang tidak mungkin‘, maknanya sama, beda-beda tipislah. Impossible itu sesungguhnya tak ada! Dua ungkapan yang mengecilkan peran impossible itu, diungkapkan oleh 2 orang di 2 era berbeda. Menarik dibolak-balik sama, jadi ‘aja judul postin ini, ‘Impossible is Nothing is Impossible‘ (Semula maunya, ‘Nothing is Impossible is Nothing’? Sama saja, setali tiga uang. Menarik).
” Impossible is just a big word thrown around by small men who find it easier to live the world they’ve been given than to explore the power they have to change it. Impossible is not a fact. It’s an opinion. Impossible is not a declaration. It’s a dare. Impossible is potential. Impossible is temporary. Impossible is nothing.” (John C. Maxwell, penulis & motivator Amerika.). Disadur bebas seperti ini,
Tidak mungkin atau impossible, adalah ungkapan dari orang “malas” untuk menikmati hidup sebagai anugerah (“nrimo”, tak mau repot), tanpa mau menggali daya yang tersembunyi di dirinya. Impossible itu tidak ada, impossible hanya pandangan kerdil dan picik; impossible hanya ungkapan sebuah kelemahan. Impossible harus dipandang sebagai keberanian memanfaatkan kekuatan di dalam diri untuk mengubah segalanya dan menjadikannya, possible! Impossible hanya sementara. Impossible bukan apa-apa!
“There is nothing impossible to him who will try.” (Alexander Agung)
Tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang barani mencoba, yang tidak pernah jera dan mau berhenti sebelum berhasil!
Sayang sedikit saja yang mengerti dan sanggup membuktikan impossible itu possible. Jadi istilah impossible diadakan terpaksa karena diperlukan banyak orang! He.he… aya-aya wae. Kaidah 20/80 Pareto (lihat “Memulai Berpikir Positif “), adalah hasil survai yang menunjukkan hanya 2% orang penduduk dunia saja yang berhasil mengendalikan 50% kekayaan dunia. Bacalah banyak-banyak tentang kisah “gagal” Archimedes, Thomas Alva Edison, kolonel Sanders, Soichiro Honda (lihat “Gagal Lagi, Gagal Lagi“), Tirto Utomo, dan generasi baby boomers (orang kaya dunia berusia muda, nanti ceritanya). Mereka berhasil menunjukkan impossible “coret” alias possible.
Gambar kartun di atas juga sama. Mimpi kita terhubung dengan banyak orang lain tanpa dibatasi ruang dan waktu, terwujud sudah. Kehadiran komputer dan telepon hingga ponsel yang kita kenal sekarang ini, merupakan upaya panjang “impossible itu tidak ada” dari banyak orang yang berhasil menggantikan “benang” dengan kabel dan gelombang radio!
Sanggupkah saya membuktikan blog sesuai impian saya? Belum tahu (nyengir), tetapi nothing is impossible ya, ‘kan? Ya, ‘kan? Paling tidak itulah modal awal yang saya percayai penuh memulai bloging ini…
[1] Banyak motivasi bagus John Maxwell ada di sini
[2] Kata motivasi Alexander The Great diambil dari sini
[3] “World Without Engineers”, Agilent Technolioges, gambar kartun hi-res dan screen saver
Sederet Translator
Sukses aja mas ya buat blognya.dan ada sedikit sarang buat mas nh.kash dunk redmore tiap tulisannya biar waktu loadingnya kaga lama mas,sekaligus lebh ringan untuk mengakses blognya dan juga nampak praktis tamipilan blognya.salam blogger.
Usul diterima, maklumlah semua dikerjakan bertahap. Sama seperti mas Jumal, otodidak. WordPress juga belum dikuasai semua, belajar sambil berjalan. Terimakasih, mas Jumal yang mengusulkan blogwalking, ‘nih jadinya. Sekarang readmore. Tunggu sebentar lagi readmore-nya, ya.
The nature of the positive thinking approach is that it relies on self suggestion. Trouble is, a positive outlook on things may not last. Especially when a person’s emotional biorhythm is on the downslope. Positive reinforcement is at most times, a good thing which will spur productivity. However, something all so positive can seem to be impossible when a person is down and out.
Having one foot on positivity and one foot on reality is a good balance.
And perhaps, a more stable approach can be achieved by utilising confidence as the source of power instead of pure positive thinking.
Which reminds me, have you read Malcolm Gladwell’s Outliers? It’s a good book that analyses success from a balanced viewpoint; taking into account both the personal power and also the social conditions surrounding persons.
Anyhow, this entry was a good read. Good stuff. Hope to see more and perhaps in depth articles in the future.
Callighan, your comment was simply wonderful! Thanks you so much. Unfortunately I didn’t have the chance to read the book. I might, someday. Please do me a favor to post one special article for readers with simple english easy for them to follow. It is my honor to have you on my blog. No preference on topics, I leave it to you, pokoknya “nyeni”. Please… (sorry, for the broken english.)
Okie day. Saya coba susun dulu ya.
Kalau sempat, silahkan main ke http://callighan.wordpress.com/
Drop a comment, or two if you will.
Thanks a lot, Sir! You have an unsual blog, I may give unusual comments as well… (be balanced as you said.) Hehehe…
Setuju Mas…,
Hanya bermain dengan dua kata saja bisa membuat motivasi yang menarik.
Cara yang cerdas.
Hehe… kebetulan saja ‘kok. Terimakasih kunjungannya.
wow.. bagus sekali blog nya..
it’s all about possitivity..
terimakasih mbak Gessi… positif thinking, bukankah sudah seharusnya demikian? Diledekin senyum, dapat nilai C (dulu) senyum, sakit kecapean, senyum… hehe. Blognya mbak Gessi juga bagus, baru saja berkunjung ke sana, kasih tahu dong bagaimana cara memberi komentarnya?