Nama Dusun itu Kahuripan (1)
Kita tidak akan menemukan dusun Kahuripan, belum tercantum di peta. Pak Urip, kepala dusun, hanyalah tamat SMU, sempat juga sih mengenyam jadi mahasiswa setahun dalam bidang pertanian, namun tak tuntas karena ketiadaan biaya. Saat bersekolah, pak Urip tergugah dan gemas oleh sebuah komoditi yang dianggap sepele dan dipakai simbol identik dengan keadaan dirinya, kemelaratan, meski belum sampai kelaparan. Komoditi itu, ubi kayu alias singkong!
Warga dusun tidak membudidayakannya karena dianggap kurang menghasilkan. Pandangan keliru warga diluruskan oleh pak Urip dengan memberi contoh nyata. Dengan kesabaran dan ketekunan pak Urip akhirnya berhasil menyulap singkong, alias ubi kayu, alias ketela, menjadi “emas”! Hasil jerih payahnya tidak sia-sia; semua warga dusun menikmati, semua senang, dan mulai menyadari makna singkong. Sebagai ungkapan terimakasih warga dusun sepakat menjuluki dusunnya, Kahuripan, mengambil nama dari bapak kepala dusun. Singkong bukan lagi simbol melarat dan lapar melainkan kahuripan atau kehidupan baru, kehidupan yang lebih menjanjikan bagi warganya. Terimakasih, pak Urip.
Pak Urip tidak cepat berpuas diri; sadar nilai “emas”nya masih berkadar 14-karat, ingin menaikkannya menjadi 18, 22, bahkan 24-karat! Sebagai kepala dusun, ingin menyaksikan dusunnya menjadi yang terdepan. Nilai dusun, yang ditentukan nilai (kualitas) hasil dusunnya, adalah tantangan. Untuk itu dusun terus dimajukan seperti memajukan sebuah unit usaha, yang menurutnya, dapat dibagi atas 7 tingkat seperti ini,
| Kelas | Tahap | Kelas | Tahap | |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Bertahan hidup | 6 | Mapan | |
| 2 | Kemitraan | 7 | Di depan | |
| 3 | Mandiri | |||
| 4 | Tumbuh | |||
| 5 | Berkembang |
Tahap-1, jelas; tahap-2 dusun menjalin kemitraan untuk penyerapan hasil dusun jangka panjang dalam upaya sustainability, tahap-3 dusun melepaskan kemitraan yang sudah mulai sanggup menjalankan usaha dengan kekuatan finansial sendiri dari hasil yang terkumpul, tahap-4 dusun mulai memasarkan diversifikasi hasil dusun, tahap-5 dusun melebarkan sayap dengan berinvestasi di berbagai kegiatan ekonomi, tahap-6 dusun menembus ambang batas hidup layak. Tahap-7 dusun makmur, baik sosial maupun ekonomi.
Begitulah pak Urip membangun desa dengan menghargai dan mengangkat komoditi tak seberapa, singkong. Masih banyak kendala dusun untuk naik kelas. Nilai singkong bisa seperti “emas” 24-karat hanya dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kreativitas!
Bukan perkara gampang, namun bukannya tidak bisa.
Karena masih dalam suasana lebaran, dengan posting cukup lama membolos, perkenankan saya rioseto’s blog memohon maaf lahir dan batin atas segala kata dan tegur sapa yang kurang berkenan, kiranya dengan menjadi lebih bersih, isi posting nanti turut lebih jernih, lebih berisi, lebih bermanfaat. Semoga…

Sederet Translator
wah, jadi kangen kampus saya (Teknologi Pertanian), semestinya banyak yang terserap ke arah sana tuh Mas Rioseto..
Selamat hari raya Idul Fitri..
Salam Hangat
Halo mas Romail! Selamat hari raya juga, ya. Mas Romail buat blog satu lagi mendorong teknologi tepat guna pertanian di dusun yang jauh sana? Banyak “harta karun” di dusun yang orang tidak atau belum tahu bernilai “emas”. Berangkat dari pascapanen dan teknologi IT untuk portal pemasarannya. (Kerjaanku cuma bisa ‘manasin, ‘aja. Hehe… )
Mohon maaf lahir dan batin ya Mas!
Mari kita sama-sama menaikkan nilai diri silaturahmi kita hingga menjadi “emas” seperti Kahuripan.
Sama-sama mas Callighan, mohon dimaafkan lahir batin juga. Dengan ‘Ctrl-Alt-Del’ kita mereset diri kita untuk “naik kelas”, mudah-mudahan menjadi “emas” seperti yang mas Callighan, dan saya, inginkan. Amin.