Lompat ke isi

Teknologi Saku 6: Di mana Monitornya?

24/11/2009

Iya kalau dimensinya sudah begitu kecil, simpan di mana monitornya? Dimensinya tidak melebihi ukuran kuku ibu jari kita, tetapi memiliki resolusi hingga 800 x 600 piksel (SVGA)! Kecil-kecil, cabe rawit. Dengan bantuan suryakanta (kaca pembesar), citra diperbesar seolah-olah mata kita melihat sebuah gambar besar berukuran sekitar 30″. Hebat sekali. Monitor diaku produsennya, Kopin, sebagai yang terkecil di dunia.

Teknologi “meniadakan” monitor atau display saling berpacu; masing-masing produsen mengeluarkan teknologi unggulannya menampilkan gambar tanpa monitor! Lihat berikut ini, dan di bawahnya lagi…

Monitor ditanam di kacanya kaca mata! Tampilan dikendalikan oleh unit yang terpasang di gagang. Karena jaraknya dekat dengan retina mata, gambar diperbesar seperti diproyeksikan dari jarak 1 meter. Teknologi ini masih dikembangkan sehingga menu yang tampil dapat dipilih dengan mata terpusat ke satu titik tertentu di menu. Klik! (Dengan mengedipkan mata?)

Mau buka imel? Ingin tahu menu yang disuguhkan saat kita berdiri di depan sebuah restoran? Mencari alamat sebuah lokasi tetapi malu bertanya? Oke.

Terbayang sudah semua orang akan berkaca mata, berjalan, berhenti, berjalan, berhenti, sambil senyum-senyum sendiri, tahu-tahu bertumbukan dengan orang di depan! Terlalu asyik membaca. Hati-hati…

Kalau lensa kontak berfungsi memperbaiki kualitas penglihatan yang kurang baik, mengapa tidak menciptakan lensa kontak seperti monitor yang dapat menciptakan pemandangan lain sama sekali? Ada-ada saja, tetapi ada yang berpikir demikian. Meski masih dalam tahap konsep sudah dicobakan pada kelinci. Kelinci seharusnya ditanya dan menjawab, apa yang dia lihat?

Monitor atau display kian dekat saja ke mata, indera utama kita. Banyak pertanyaan perlu diajukan sebelum “monitor” benar-benar terpasang; komponen elektronika belum tentu kompatibel atau ramah dengan mata. Ada listriknya lagi!

Setiap obyek asing yang masuk ke dalam tubuh kita akan mendapat perlawanan sebelum akhirnya menyesuaikan.

Puncaknya adalah manfaat teknologi untuk tujuan mulia, kemanusiaan. Diharapkan nanti melalui monitor yang tertanam di dalam mata para penyandang cacat tuna netra, mereka pun berkesempatan bisa menyaksikan indahnya warna-warni alam ini… .

Semogalah demikian, terimakasih pencipta mata bionik, terimakasih teknologi.

:D

Klip menarik tentang tren teknologi display bisa dilihat di sana dan di sinisci-fi (science fiction) comes true?


No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.