Lompat ke isi

Produk Paling Dicari di Masa Mendatang (2): Makanan Bersih

25/02/2011

Berita hangat minggu ini di berbagai media cetak, “dunia di ambang krisis pangan“. Gara-gara iklim global menyimpang gagallah panen. Dunia panik dan sibuk memikirkan solusi ketersediaan pangan dunia yang sudah memasuki tahap kritis! Tidak mudah menjaga kelangsungan pengadaan 18 milyar piring makanan setiap hari (penduduk 6 milyar lebih x 3 kali makan). Jika berat makanan sepiring 0,5 kg, makanan yang harus tersedia 9 juta ton per hari! Per jam? Per menit?

Paling tidak ada 10 negara dunia berpenduduk milyar yang dipusingkan urusan pangan ini: Cina (1,3 milyar), India (1,2), Amerika (0,31), Indonesia (0,24), Brasil (0,19), Pakistan (0,17), Bangladesh (0,16), Nigeria (0,16), Rusia (0,14), Jepang (0,13).

Tanaman pangan dan hewan ternak tidak tiba-tiba besar. Perlu waktu untuk tumbuh. Berapa lama diperlukan untuk menyediakan pangan sebanyak itu? Pada saatnya diperlukan, belum tersedia; kebalikannya, pada saat tak diperlukan hasilnya berlimpah dan disia-sia. Kita malas berpikir panjang, hari ini adalah hari ini besok bagaimana nanti. Salah kita juga. Pikiran kita ibarat komputer teknologi “8088″ (generasi PC/XT), kalah jauh dengan teknologi komputer yang sudah di atas “quad core”. Lemot, bertindak kalau sudah terjadi. Kasip!

Kondisi ini membuat semua berlomba berebut menguasai sumber pangan baik yang berada di daratan maupun di lautan. Kalau perlu curi-curi. Berbagai cara dilakukan untuk merangsang sumber pangan agar jumlah bisa lebih banyak panen bisa lebih cepat, mulai dari bibit, pupuk, pestisida, insektisida, pengawetan, hingga pencarian ke bahan pangan alternatif unggulan. Hasilnya harus beli, tidak gratis. Ini bisnis.

Terjadi kesenjangan; sebagian kenyang, sebagian kelaparan. Terjadi kelalaian; pemaksaan tanpa aturan agar tanaman pangan dan hewan ternak berjumlah lebih banyak dan panen lebih cepat hanya merusak struktur organ tubuh kita yang baru terasa sekian belas atau puluhan tahun kemudian. Terlanjur memakan makanan ‘kotor’. Baru ‘nyadar kalau sudah jatuh sakit. Kasip!

Dunia seisinya harus diselamatkan, lingkungan dibersihkan hingga asri kembali. Produk buatan manusia harus ramah lingkungan, bisa didaur ulang oleh alam kalau tidak ingin kualitas tanaman dan hewan yang kita makan menurun (kualitas kesehatan, kebugaran, kecantikan kita, ikut-ikutan menurun). Kampanye kembali ke alam dicanangkan dan digalakkan. Lihat berbagai logo gambar di samping. Itu kuncinya.

Tidak dibahas, masalah pangan menjadi lebih jelas bila dilengkapi data kerapatan penduduk (jumlah penduduk dalam satu lahan), untuk memperkirakan lahan cukupkah memasok pangan bagi penghuni di dalamnya.

Tahulah kita sekarang,  ketahanan pangan itu penting dan strategis. Tahulah kita sekarang kedaulatan wilayah itu penting dan strategis. Tahulah kita sekarang sukarnya menjaga ketat perbatasan negeri kita yang maritim dengan belasan ribu pulau itu!

Tahulah kita sekarang, dan percaya, makanan ‘bersih’ akan jadi bisnis besar di masa mendatang. Mau?


:D    bukan ikan yang diselamatkan tapi lautnya (juga tanahnya, udaranya, sumber airnya)

2 Komentar leave one →
  1. 03/03/2011 11:24

    kembali kejaman penjajahan yang susah makan. makan singkong mentah, pisang. dll.
    pemerintah sibuk mencari alasan bukan solusi…

    • 14/03/2011 02:54

      setuju… kita mikirin diri sendiri aja dulu, puasa, lalu ekspor singkongnya dulu ke eropa timur mau? duitnya baru dibelikan nasi, gitu.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.