Gagal Lagi, Gagal Lagi…

(dibacanya, “Sukses Lagi, Sukses Lagi!”)

Itulah yang tersimpul saat membaca kisah cara orang-orang besar memandang sebuah kegagalan. Penolakan, ketidakberhasilan, dan hal-hal negatif semacamnya, semua diterima dengan besar hati. Berterimakasih telah memberi bahan renungan untuk memacu semangat mendapatkan solusi lebih baik dan lebih baik lagi, yang disadari atau tidak, mengantarkan mereka tiba di puncak keberhasilan! Salah seorang tokoh yang patut diteladani, telah terpilih untuk berbagi pengalaman dengan kita. Cara tokoh mengubah diri dengan berpikir tanpa henti, mengambil keputusan dan bertindak, sangat relevan dengan kondisi kita sekarang. Modalnya ada di dalam diri, di pola pikir atau mindset yang kita miliki, bukan di luar, bukan pula teknologi…

Soichiro Honda, itulah dia, seorang tokoh otomotif dunia asal Jepang. Honda san (panggilan santun untuk ‘bapak’), mengasong sebuah suku cadang penting mesin mobil hasil gagasannya, ring piston, kepada Toyota. Ditolak. Diperbaiki, ditolak lagi. Temannya menertawakan. Frustasi? Ya. Jatuh miskin? Ya. Gagal dan menyerah? Tidak. No way. Setelah 2 tahun berjuang keras, akhirnya ring pistonnya diterima juga. Sukses.

Memproduksi ring piston?  Tidak ada bangunan, tidak punya uang, tidak ada bantuan pemerintah Jepang (masa itu Perang Dunia II). Gagal dan pasrah? No way.  Bersama teman-teman yang masih mendukung idenya, mereka bekerja keras siang-malam mewujudkan bangunan hingga selesai. Akhirnya ring piston jadi juga memasuki jalur produksi. Sukses.

Bum! Bum! Sebagian pabrik Honda hancur dibom Amerika. Honda takluk? No way. Dasar bandel, dia kumpulkan semua pegawainya, “Perhatikan pesawat Amerika itu! Pesawat membuang tangki bahan bakar habis pakai ke bumi. Cepat cari di mana tangki itu jatuh”. Tangki terbuat dari material langka yang bagus sekali untuk ring piston. Keberuntungan rupanya masih belum berpihak kepadanya. Pabriknya dihantam gempa bumi hingga rata tanah. Akhirnya produksi ring piston terpaksa dijual ke Toyota. Tamat sudah riwayat Honda san. Gagal.

Belum, belum lagi. Seusai perang dunia, ekonomi Jepang goncang. Persediaan bahan bakar terbatas, orang sukar pergi kemana-mana.  Honda san belum merasa gagal, masih memiliki akal pikiran. Dengan sebuah motor kecil terpasang di sepedanya Honda berhasil keluyuran kian kemari. Eureka! Honda sampai kehabisan motor untuk membantu teman-temannya. Sukses.

Kondisi ini melahirkan gagasan baru untuk membangun sebuah pabrik sepeda motor. Uang dari mana?  Akal kancilnya keluar. Disebarlah proposal ke semua toko sepeda di Jepang. Dari 18,000, 3,000 memberi tanggapan positif. Jadilah industri sepeda motor. Sukses? Gagal.

Nyaris tidak ada pembeli, sepeda motornya terlalu besar dan berat. Kepalanya mungkin masih terpengaruh ‘mo-ge’ (motor gede). Gagasan baru muncul kembali dan dilaksanakan cepat sekali. Itulah Super Cub (cub = cheap urban bike, sepeda kota yang ekonomis), sepeda ramping manis, si “bebek” bermesin kecil 49 cc 4-langkah pertama di dunia. Buum! Si “bebek” berkekuatan 4,5 daya kuda kini berganti mem”bom” Amerika! Maksudnya, ekspor. Honda Cub sampai April 2008 lalu berhasil di”cetak” sebanyak 60 juta unit. Sukses besar!

Selanjutnya sejarah. Honda Cub jadi maskot, jadi mahakarya cemerlang yang selain menghidupi industri juga berkembang, ke bawah, ke arena balap dunia paling bergengsi mobil F1 dan sepeda motor MotoGP, dan ke atas, melakukan riset terobosan dalam teknologi (ingat Asimo? Si robot cerdas yang bisa menari dan melayani tamu itu?) dan energi alternatif yang ramah lingkungan.

Success is 99 percent failure!” (Soichiro Honda)
Sukes itu (berangkat dari) 99 persen kegagalan!

We see a bright future fueled by the Power of Dreams. Can you see it, too?
Kami memandang asal masa depan cerah dari Kekuatan Impian. Adakah Anda melihatnya juga?

Kisah Honda san dihabisi dulu hingga di sini; ini cukup menginspirasi kita berbuat serupa dengan gaya dan cara kita sendiri…


[1]  Anthony Robbins, “Notes From A Friend”
[2]  Soichiro Honda
[3]  Honda, The Dream Comes True (video klip cantik, klik ‘Short Film‘)
[4]  Falsafah Honda (inggeris, bagus untuk memulai blog)

Tagged with: , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Dunia Wirausaha, Wawasan
11 comments on “Gagal Lagi, Gagal Lagi…
  1. […] “gagal” Archimedes, Thomas Alva Edison, kolonel Sanders, Soichiro Honda (lihat “Gagal Lagi, Gagal Lagi“), Tirto Utomo, dan generasi baby boomers (orang kaya dunia berusia muda, nanti ceritanya). […]

  2. […] Honda san (artikel “Gagal Lagi, Gagal Lagi”), yang dengan cerdas membalas kehancuran pabriknya oleh bom perang dengan bom ekonomi. Setimpal, […]

  3. zulhaq mengatakan:

    hhmmm, lumayan buat perenungan🙂

  4. rioseto mengatakan:

    @Echie…
    iya, niy.. sepi comment mungkin emang jarang memperbaharui yaa dan jg jarang update info2.. any suggestion…?

    Kalau melihat jumlah posting 56 dan kelahiran blog yang baru 70 hari, saya kurang banyak mengisi ya?

    Soal sepi komentar, iya sih, benar. Mungkin artikelnya aneh, sehingga sukar dikomentari. Kadang bersambung. Sifatnya memang mengajak dan memotivasi agar yang membaca seperti mbak Echie, tergerak terus maju memanfaatkan blog.

    Maklumlah, saya ini guru, bisanya cuma itu, mendorong anak-didik maju..

    ‘Kok situs mbak Echie tidak bisa diakses, bisa diulang?

  5. rey mengatakan:

    klo kebanyakan gagalnya,bukannya modal kita habis.sedangkan hidupkan harus makan.perlu ga kita kasih batas,sampai dimana kegagalan dapat di toleransi.

    • rioseto mengatakan:

      Jawaban sekaligus menjawab komentar mas Rey yang lain, ya.

      Dalam mewujudkan mimpi besar, tidak mungkin kita mengerjakannya semua sendiri. Di awal kita bersiap dengan siapa kita berbagi impian ini. Kalau perlu, impian diakui milik rame-rame; jangan narsis, karena tujuan utama kita mimpi terwujud. Semua boleh, dan sah, dapat nama. Kita hanya ‘provokator’ saja.

      Gagal tidak bisa ditoleransi. Selalu diperbaiki, selalu disempurnakan. Itulah falsafah Jepang ‘kaizen’; coba mas Rey perhatikan iklan produk apa saja, for a better tomorrow, make life better, selalu mengandung kata atau makna, “lebih baik”.

      Gagal, baru disebut gagal kalau kita benar-benar berhenti berupaya. Modal tidak habis, hanya berkurang. Mas Rey masih punya modal kemauan, waktu, teman/networkdan pengetahuan kegagalan itu sendiri (yang di”tukar” dengan modal, kalau itu maksudnya uang). Pengetahuan kegagalan harus memotivasi kita untuk terus memperbaiki, mengganti strategi, sampai dapat.

      Itu juga yang sedang saya kerjakan sekarang. Sudah 5 tahun berkpirah ingin bisa buat komputer sendiri. Belum ada tanda-tanda terang. Modal uang sudah habis. Saya tetap nekat dan yakin produk ini pasti diperlukan orang suatu saat. Sekarang sedang mencari sponsor. Semua perlu waktu untuk sampai tujuan.

      Never give up. Begitu, mas Rey.

  6. […] Honda san (artikel “Gagal Lagi, Gagal Lagi”), yang dengan cerdas membalas kehancuran pabriknya oleh bom perang dengan bom ekonomi. Setimpal, […]

  7. gessi mengatakan:

    ehmmm…, yg kadang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana untuk selalu menjaga motivasi dalam diri yang kadang pasang-surut..🙂
    thx share nya..

    • rioseto mengatakan:

      saya sudah berwisata ke blog mbak gessi… kok commentnya ‘ndak hidup, ya. isi blog mbak gessi mirip blog ini (sempat lihat semua?); pasang-surut itu alami, surutnya 2- pasangnya 80, fokuskan selalu ke sasaran di depan, jangan pakai kaca spion menoleh ke belakang (masa lalu), lupakan… oke?

      • Echie mengatakan:

        thx info nya, pak..
        iya, niy.. sepi comment mungkin emang jarang memperbaharui yaa dan jg jarang update info2.. any suggestion…?

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: