Memulai Berpikir Positif

Pikir Positif Latih
Gagal berkonotasi ‘-‘ (negatif); gagal berarti tidak berhasil, tidak tercapai, tidak jadi.[1] Gara-gara pakai ‘tidak’, semua rencana yang sudah tersusun rapi dan mantap untuk dijalankan, kacau, dan urung dilaksanakan. Bubar jalan!

Salah kita sendiri. Rupanya kita lebih suka tidak berhasil atau gagal. Hasilnya ada, nyata, mudah, cepat lagi. Kalau berhasil, tercapai, atau jadi, itu maya, tidak ada, tidak nyata, susah, dan …lama. Berhasil (baca makmur, sejahtera, bahagia, kaya, dan yang bagus-bagus lainnya) cuma impian, fata morgana belaka. Kalau berhasil, kebetulan; kalau tidak, sudah dari sononya. Nanti, sebentar, fatamorgana bukan berarti tidak ada, ‘kan! Dia terlihat tetapi ‘belum’ bisa dipegang, kalau itu yang dimaksud.

Maya ditakuti, sebisa-bisa dihindari, bukannya malah digali. Kita sudah senang bisa bercerita kisah orang-orang sukses kelas dunia. Toko dan percetakan yang untung, bukunya laris manis. Apa ‘sih yang menghambat kita menjadi tokoh seperti yang di buku itu? Jujurlah, kita juga ingin ‘kan?

Berpikirlah positif, bukan kebalikannya. Jangan bilang tidak bisa sebelum mencoba, jangan dulu berhenti sebelum jadi “juara”. Tidak terlalu salah prinsip Pareto, juga dikenal sebagai kaidah 20:80 atau 20/80, yang menyatakan hanya 20% penduduk dunia sajalah yang menikmati dan mengendalikan 80% kekayaan dunia.[2] Dari laporan PBB tahun 2006, hasil survai tahun 2000 menunjukkan 2% penduduk dewasa saja yang mengendalikan lebih 50% kekayaan dunia, separuhnya saja (1%) sudah menguasai 40% .[3] Wow. Bandingkan terhadap jumlah penduduk dunia 6 milyar. Berikut ilustrasi laporan kemakmuran dunia,

Wealth_Distribution-2000-jpgKe mana sisanya? Terperangkap dalam pola pikir negatif. Hanya duduk berpangku tangan di sisi arena, menjadi penonton. Itulah maksud meluncurkan enam artikel berturut-turut sebelumnya, Kreatif, Ja-im, Ja-im Sekal Lagi, Veni-Vidi-Vici, Gagal Lagi-Gagal Lagi, dan terakhir Hello Indonesia. Artikel merupakan upaya memperkuat kita untuk berhasil melepaskan diri dari keterbelengguan itu. Memulai berpikir positif seperti Soichiro Honda, yang saya kagumi karena watak “bushido”nya (perwira, ksatria sejati) yang kuat, terus melawan dan berperang terhadap keadaan. Di tangannya, dirinya berubah, Jepang berubah, dunia berubah. Bukankah kita juga ingin berubah, sudah bosan dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. (Benarkah?)

Kegagalan, bukanlah kegagalan melainkan energi pembangkit adrenalin yang memompa dan menempa kita terus-menerus hingga berubah positif, untuk mendorong kita ke atas. Istilah ‘gagal’ hanya pantas dipakai setelah benar-benar kita menghentikan usaha atau upaya. Berhasil menciptakan kartu “mati” sendiri.

Berpikir positif diperoleh melalui berlatih. Cara gampang adalah berpuasa! Menahan diri dari berucap buruk yang kurang terpuji, menahan diri tidak marah selama seminggu, yang kalau gagal mengulang dari awal kembali. Berani mengakui salah, tulus memuji rekan-rekan yang berprestasi, dan seterusnya. (Tidak gampang juga, ya!) Panduan praktis berpikir dan bertindak positif ada di “Notes from a Friend”-nya Anthony Robbins.[5]

Perhatikan dengan seksama perubahan apa yang terjadi di dalam diri setelah berhasil lulus menahan diri selama seminggu.

Selamat berlatih menuju tokoh hero yang dikagumi, menjadi “Honda-Honda” baru…

😀

[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (DepDikNas)
[2] Prinsip Pareto, Kaidah 20/80
[3] “Pioneering Study Shows Richest Two Percent Own Half World Wealth”
[4] “Richest 2% Own Half World Wealth; Bottom 50% Own 1%”
[5] Anthony Robbins, “Notes from a Friend”

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Dunia Wirausaha, Wawasan
6 comments on “Memulai Berpikir Positif
  1. […] diperlukan bagi yang lain. Hehe… aya-aya wae.) Munculnya kaidah 20/80 Pareto (baca artikel “Memulai Berpikir Positif “), hasil survai hanya 2% orang saja yang mengendalikan 50% kekayaan dunia, kisah sukses […]

  2. blogger senayan mengatakan:

    thanks infonya pak

  3. blogger senayan mengatakan:

    blognya bagus, makasih ya

  4. supriatno mengatakan:

    Nice blog.
    Salam Kenal… Trims udah mampir.
    Tukaran link aja sama saya….

    • rioseto mengatakan:

      Terimakasih mas Supri, saya sudah baca artikel tukar link alias link exchange di blognya mas… saya coba dulu, oke. Perlu buat logo sendiri? Avatarnya mas Supri ke mana?

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: