Gunungan

gunungan1 Artikel disunting ulang dan disempurnakan 12 November 2010.

Samasekali bukan ahli perwayangan, hanya tahu gunungan dipakai saat memulai dan mengakhiri sebuah lakon dalam pertunjukan wayang kulit dan wayang golek. (Wayang orang, ada?)

Banyak tafsiran mengenai gunungan, namun pada dasarnya semua berhubungan dengan awal (dan akhir) sebuah kehidupan. Dari tanah kembali tanah, dari debu kembali debu. Dari tiada, jadi ada, kembali tiada. Gunungan akhirnya saya putuskan dipakai sebagai simbol memulai (dan mengakhiri?) berbloging.

Memandang ke dalam, di gunungan ada rumah, lantai, dan pintu, yang merepresentasikan ‘home’.  Semasa kecil kita memperoleh pembekalan ketrampilan, pengetahuan, sikap mental, dan cinta, di sini. Pembekalan yang diterima, menjadi fondasi kekuatan kita untuk memulai berkiprah di luar rumah.

Memandang ke luar, yang terlihat hanyalah sebuah dunia “gelap” penuh misteri (simbol hutan), namun nun jauh di ujung puncak sana ada satu titik cahaya terang, putih bersih, cantik, indah, dan harum (bunga melati)). Ke sanalah kita menuju.

Apa daya? Tidak ada pilihan lain kecuali menjalaninya. Perjalanan pun dimulai… . Kita harus belajar kenal dengan perilaku penghuni hutan, melihat ke kiri, yang sedih, yang fakir, yang lapar, yang sakit, yang sengsara, yang bodoh, yang jahat, yang kikir; melihat ke kanan, yang gembira, yang kaya, yang kenyang, yang bugar, yang senang, yang pintar, yang baik, yang murah hati. Apakah penyebab ini semua? Akibat dari apa ini semua? Mengapa semua harus ada?

Inilah pembelajaran sesungguhnya, memahami makna hidup dan kehidupan yang hakiki. Saat meniti puncak yang hanya berukuran setapak (simbol batang pohon) mudah kita tergoda, terpeleset, tergelincir, tersesat, dan jatuh di hutan belantara. Kita harus bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan menuju ke puncak.

Untuk itu kita diajari teguh, berjalan tegap lurus menuju sasaran, sambil beramal berbagi dan mewariskan ilmu, kasih sayang dan menolong kepada sesama dan anak turunan kita, saling mengangkat, saling melindungi, saling menghidupi. Silih asih, silih asah, silih asuh (silih, bahasa sunda, artinya saling). Disimbolkan dengan menumbuhkan turunan cabang, ranting, dan daun ke sekitar kita. Saat tiba di puncak, misi perjalanan kita selesai, hanya keharuman amal perbuatan kita yang tertinggal, yang bisa diteladani (simbol melati).

Demikian blog ini, semogalah bisa memberikan manfaat dengan saling berbagi sehingga memudahkan kita mendaki/menapaki jalan “gunungan” ini hingga tiba di puncak keberhasilan. Puncak kesempurnaan…


Dari saya yang ngawur, boleh ganggu rekan-rekan bloger untuk mendapatkan pencerahan di sekitar topik ini? Tidak perlu terlalu seriuslah, untuk pengetahuan kita-kita saja…

 

Simbol kepangkatan perwira menengah dalam ABRI memakai melati; arsitektur bandara Adi Sumarmo (kabupaten Boyolali, Solo) mengambil bentuk gunungan? Ada hubungan geometri apa antara gunungan, simbol love (jantung terbalik), daun sirih, dan ajimat ‘kalimusada’ (“kalimat syahadat“) di dunia pewayangan yang bisa menghidupkan yang “mati”? Sebuah renungan.

Untuk mereka yang masih ingin mendalami gunungan ada di bawah ini (bahasa inggeris, tidak ada bahasa indonesia?) [1] gunungan1 [2] gunungan2 (3) adisumarmo (gambar besar)

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Dunia Wirausaha, Lain-Lain, Wawasan
6 comments on “Gunungan
  1. Callighan mengatakan:

    Kalau di eropa barat, simbol keperwiraan adalah simbol phallus. Semakin banyak phallus-nya, semakin tinggi pangkatnya.

    Boys will be boys, eh?

    Mungkin perbedaan simbol antara tentara di sana dengan tentara di sini adalah adanya keluhuran simbolis dalam ketentaraan di Nustantara.

    • rioseto mengatakan:

      Iya juga, sih. Simbol phallus untuk keperwiraan atau keperkasaan, rasanya bagus juga, apalagi multiphallus! Kalau beruntung memperolehnya dan boleh pilih, simpan di mana?

  2. apiqquantum mengatakan:

    Bahkan untuk menemukan blog ini saya harus melalui jalan berkelok. Tadinya saya berharap dengan klik komen Pak Rio di blog saya maka saya langsung menemukan jalan lurus menuju blog ini. Ternyata tidak.

    Lalu saya search di google “Rioseto EL ITB” sampailah ke blog BR dan akhirnya berhasil sampai puncaknya di sini.

    Sekarang saya sudah tahu jalan lurus menuju blognya Pak Rio.
    Terima kasih…

    Salam,
    Agus nggermanto EL93

    • rioseto mengatakan:

      Pokoknya sudah ketemu… selamat Ketemu!

      ‘Googling’ pakai rioseto mestinya mudah, kalau rio seto memang agak susah. Harus pasang apa di blog saya atau kalau komentar nanti, agar bisa ditemukan cepat?

      Terimakasih kembali mas Agus!

      Salam,
      rio seto

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: