Dari “Integral” ke “Integral-Coret”


Saya nekat, memberanikan diri ikutan IB Blogger Competition Kompasiana, tidak apa-apa, ya? Logo ada di pojok kanan bawah. Artikelnya dipersyaratkan harus bertema bank syariah. Berikut artikelnya…

Inspirasi, jadi impian, jadi kenyataan, adalah perjalanan panjang. Dimulai meniti dari hulu R & D (research & development), berlanjut ke rekayasa, ke produksi atau manufakturing, ke pemasaran, dan berakhir di hilir, penjualan. Sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Masih ada terusannya sedikit, layanan purna jual.

Jalan ini tidak dikenal banyak orang, luput dari mata karena tidak tercantum di peta. Banyak yang tersesat dengan menjalaninya hanya sepenggal saja. Berhenti di R&D atau rekayasa sudah biasa, sudah puas dan berbangga menyaksikan prototipe hasil karyanya. Nyata, wujudnya ada barangnya ada. Tugas selesai.

Begitulah perkiraannya.

Padahal itu baru separuh, kalau tidak sepertiga perjalanan. Hasil dari “integral”, simbol matematika ampuh yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi, terhenti hanya hingga di situ saja. Sayang, padahal perjalanan tersisa, produksi, pemasaran, penjualan, dan layanan purna jual, harus dituntaskan untuk tiba di terminal sesungguhnya, “keberhasilan”. Keberhasilan yang diukur oleh tingkat apresiasi masyarakat di mana masyarakat bersedia membeli, menukar hasil karya dengan uang, karena manfaat yang ditawarkannya.

Babak perjalanan menuju terminal akhir ini sangatlah penting, karena disinilah proses transformasi nilai ilmiah, “integral”, menjadi nilai ekonomi, “integral-coret”, terjadi. (Simbol integral mirip huruf “S” dan integral coret atau “S-coret” adalah simbol uang, dolar.) Ya, uang! Inilah senyata-nyatanya yang nyata.

Menemukan jalan “integral” hingga “integral-coret” tidaklah mudah, menuntut latihan keras membiasakan diri berpikir positif, yang ditempa secara terus-menerus membentuk kepribadian entrepreneur sejati, yang pantang menyerah, yang belum berhenti hingga impiannya jadi! The never ending journey, nothing is impossible.

Contoh sederhana. Di sebuah pusat perbelanjaan terlihat sekelompok anak gadis remaja yang sibuk mengaduk-aduk sepatu di keranjang obral. Namanya obral, kita sudah maklum; warna tak sesuai selera, model kuno, ukuran tidak jelas. Apa boleh buat, beli saja, pokoknya baru, …dan murah. Cukup dipakai beberapa kali, selanjutnya masuk keranjang sampah.

Tring!‘, ilham itu datang. Kalau saja ada sepatu trendi mengikuti mode, warna-warni, tahan dipakai sekali dua kali, bisa dilipat masuk tas mini, harga terbeli… tentu laku keras! Sangat boleh jadi.

Inspirasi pun berubah jadi impian, berpikir keras siang malam bagaimana caranya berhasil menciptakan sepatu tersebut. Perjalanan pun dimulai; mencari informasi ke sana ke mari, meminta tolong pakar seni, membuat sepatu perdana untuk diujicoba, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai jadi. Benar saja, …boom!

Terbangun kaget mendengar ledakan! Oh, jadi tadi itu cuma mimpi. Melihat ke kiri dan ke kanan ternyata kosong melompong, benar tidak ada apa-apa. Sudah terlanjur terbakar oleh semangat, bertekad keras untuk menjalani apa yang dibayangkannya selama ini. Kerjakan! Tidak ada siapa pun yang sanggup menghalangi. Berhasil! Ada 7 pasang sepatu contoh, bisa digulung atau dilipat 3, terbuat dari kertas daur ulang bercampur serat rami. Modis, warna pastel. Cantik, semua gadis suka. Tetapi apa daya isi kantung habis. Bikin 17 masih bisa, 7.000? Entahlah, tidak tahu ke mana mesti pergi memperoleh bantuan. Datanglah si penggoda, “berhenti sajalah…”. Enyahlah, dikau.

Inilah tantangan bank syariah. Selain penyandang keuangan, bank memiliki fungsi lain yang tidak kalah strategis, menjembatani kesenjangan “integral” dengan “integral-coret”, mengulurkan tangan hingga impian nasabah berhasil menjadi kenyataan. Memiliki visi jauh ke depan, berpandangan kejayaan bank adalah berkat keberhasilan bank menjayakan nasabahnya.

Demikian pula dengan misi; bank memiliki jiwa dan semangat entrepreneurship serupa dengan nasabahnya. Tanggap dan sigap membaca suasana, jeli melihat situasi, bank harus siap jemput bola merintis penciptaan sekian ratus usaha baru per tahun, dengan kreatif menggali peluang berpotensi ekonomi yang jumlahnya sangat banyak, namun masih tersamar itu, di perbatasan “integral” dan “integral-coret” sana…


Rekan-rekan bloger, ayo ikut kompetisi… ada 2 kompetisi; hadiahnya 5 juta untuk 1 orang dan 1 juta untuk 5 orang. Asyik… (kalau menang).

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Dunia Wirausaha, Lain-Lain, Wawasan
One comment on “Dari “Integral” ke “Integral-Coret”
  1. armand(TESDC) berkata:

    Apa kabar Pa?. Wah saya baru sempat baca ttg integral coret hari ini. Padahal diskusinya sudah bertubi tubi ya Pa.

    Menarik setelah membacanya. Libido terasa didorong – dorong dan terprovokasi, gelisah, sedih dan gembira saling berganti…hehehe.

    Salah satu alasan kenapa saya meprovokasi berdirinya TECHNICAL ENTREPRENEURIAL AND SKILL DEVELOPMEN CENTER adalah menyalakan apa yang Pa Seto tulis itu. Intinya bagaimana otak kanan dan otak kiri kita aktif….Hahaha.

    Mudah – mudahan dengan bantuan Para SPONSOR, DONATUR dan PALING MAHA PENTING yaitu RIDHLO ALLAH SWT cita – cita kami akan tercapai. Setidak – tidaknya saya dan kawan – kawan sudah menyiapkan warisan yang sangat berharga untuk adik, anak dan cucu kita. AMIN

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Translate • Terjemahkan
Foto Minggu Ini
Boneka Jepang Geisha

Belajar memotret boneka dengan lampu kilat

%d blogger menyukai ini: