Horee, Sekolah Bisa Gratis

e-Kompas_290709

Ini artikel ke dua yang juga diikutkan dalam kompetisi iBlog Kompasiana…

Bisakah sekolah gratis?

Bangunan, halaman, bangku, papan tulis, laboratorium, perpustakaan, bengkel, instalasi listrik, instalasi air, sarana keamanan, sarana keselamatan…  semua ‘kan harus dibeli pakai uang?  Imbalan dan tunjangan guru, pemeliharaan fasilitas dan perbaikan kerusakannya, pemakaian utilitas, dan lain-lain… ‘kan harus dibayar juga pakai uang?

Biaya pendidikan nol mutlak, gratis, bisa ‘gitu?

Ya, tidaklah. Badan penyandang dana seperti bank syariah sudah lama meluncurkan semacam paket asuransi syariah membantu menanggulangi masalah biaya pendidikan yang mahal ini. Sudah cukup.

Benar, tetapi coba dorong terus sedikit lebih jauh. Dari sisi entrepreneurship, mahal adalah relatif bergantung dari sisi mana kita memandangnya, dan menjadikannya murah bahkan gratis, aha, ini baru menarik!

Gagasannya adalah konsep “total”. Total lama pendidikan sejak SD hingga sarjana S1 adalah 16 tahun. Total biaya pendidikan, anggaplah Rp.40 juta per tahun, Rp.640 juta  (dibulatkan). Total masa kerja produktif anggaplah 20 tahun, berarti total gaji/upah Rp.4,8 milyar (Rp.20 juta per bulan, cukup?)  Dengan demikian total investasi per kepala adalah Rp.5,5 milyar  (dibulatkan).

Seusai masa kerja, setiap kepala sanggup menghasilkan produk atau jasa bernilai setara Rp. 10 milyar. Ada selisih Rp.4,5 milyar (positif) setelah 36 tahun. Kalikan 10,000 orang, 45 trilyun! Nilai ini mengalir masuk setiap akhir tahun sejak tahun ke 37. Gedung terpelihara, bos (biaya operasional sekolah) terbayar, guru dan karyawan sejahtera, para orang tua tak perlu cemas lagi. Pendidikan gratis! Horee…!

Sebentar, hukum Pareto 20/80 terlupa. Hanya 2,000 orang saja yang sebenarnya sanggup menghasilkan prestasi itu. Total, 9 trilyun. Delapan ribu orang lainnya cukup diusahakan sampai impas. Tetapi, untuk memperoleh jumlah ini harus menunggu 37 tahun? Terlalu lama.

Prinsipnya, sekolah bisa gratis.

Bank syariah atau pun mitra penyandang dana lain akan melihat usaha mengelola aset SDM cerdas cendekia melalui pembangunan sekolah K1-K12 dan perguruan tinggi, kurang menarik karena tidak sebanding secara bisnis meskipun mengemban misi mulia.

Ini mimpi saya. Tetapi biaya pendidikan nol bukannya tidak mungkin ‘kan?


Masih tetap bermimpi…

Sekarang sudah era digital atau era informasi. Sumber ilmu pengetahuan atau body of knowledge bertebaran di mana-mana. Apa yang ingin diketahui, ada, tinggal ambil saja. Buku cetak tak lagi mutlak jadi pegangan utama. Murid cukup berbekal kemampuan memakai dan memanfaatkan komputer, yang segera diikuti ponsel, untuk mengakses pengetahuan, yang begitu banyak dan menarik, penuh dengan warna, animasi, audio, dan video.

Berubah! Proses belajar-mengajar mulai berubah, bergeser ke serba “e” atau “i” seperti  e-papan tulis, e-buku, e- catatan, dan seterusnya. Mungkin jajan atau mengudap jadi e-kudap. Siapa tahu. E-entahlah.

IEEE Spectrum Jun05-sBiaya bersekolah sudah tak perlu lagi sebesar dulu. Untuk apa lagi? Sekolah telah berganti menjadi balai pintar, sekolah tanpa dinding. Body of knowledge lengkap tersimpan di sini, guru dan pembantunya bekerja siap melayani murid “24/7” (24 jam sehari, 7 hari seminggu). Murid dapat mengakses pengetahuan dan belajar dari rumah, warung, sawah, atau kebun seraya menggembala kambing. Kalau tak sempat, tidak mengapa masih bisa diulang nanti. Komputer tidak harus punya, cukup sewa.

Berapa besar investasi mencerdaskan anak bangsa selama 16 tahun? Kalau sewa komputer dan akses informasi dipukul rata Rp.0,5 juta sebulan, total Rp.100 juta selama 16 tahun (dibulatkan). Sudah berbahagia dengan gaji/upah Rp.10 juta sebulan, total investasi cukup Rp.2,5 milyar per kepala.

Dengan target nilai produktivitas dipasang lebih rendah Rp. 5 milyar selama masa kerja, diperoleh saldo plus Rp.2,5 milyar setelah 36 tahun. Dari 100,000 (balai pintar menjaring murid jauh lebih banyak), 20,000 yang berhasil mencetak prestasi kerja, total Rp.50 trilyun! Bandingkan dengan 9 trilyun pada sekolah tradisional. Margin Rp.1,39 trilyun per tahun. Skenario bisnis ini lebih baik dan masuk akal.

Horee, sekolah bisa gratis.

Benar! Gambar kartun di harian Kompas Rabu 29 Juli kemarin, kita tambahi sedikit seperti ini,
“… yang gratis anaknya, yang bayar orang tua angkatnya, bank syariah, yang menerima manfaatnya, kita semua!”

Bagaimana?

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Dunia Wirausaha, Lain-Lain, Wawasan
6 comments on “Horee, Sekolah Bisa Gratis
  1. nusantaraku mengatakan:

    Mantap Pak hitung-hitungan angkanya.
    Untuk Mas Callighan, pengguna internet pada tahun akhir 2007 sekitar 25 juta orang, akhir tahun 2008 diprediksi diatas 30 juta orang. Dan saat ini saya prediksi sudah mencapai hampir 40 juta orang.
    Terjadi ‘deman’ internet yang begitu tinggi, tapi sayang demamnya untuk facebook-an, video porno dan sejenisnya.
    Masalah menggali ilmu pengetahuan dan kreativitas masih minim.
    Dan Pak Rio Seto telah membangkitkan semangat ‘internet cerdas, sejahteranlah Indonesia”…
    -Iwan-

    • rioseto mengatakan:

      Halo mas Iwan,

      Ah, “Horee, Sekolah Gratis” itu ‘kan wacana karena melihat dan berpikir mengapa Yahoo dan Google gratis ‘kok bisa kaya, top lagi!

      Model bisnis “gratis” yang sukses belum dikenal; saya harus memulai sambil belajar bagaimana cara membuat kisah sukses berbasis model ini. Dasar guru, harus memberi contoh cara kencing berdiri dulu agar murid bisa kencing berlari. Masih banyak yang harus dipelajari, blog saja belum semua dikuasai, belum 100 hari, mas Iwan.

      Jadi andai blog ini dan nusantaraku bisa saling mengisi untuk mempercepat waktu mencerdaskan anak bangsa, mengapa tidak?

  2. callighan mengatakan:

    Ada baiknya artikel ini disertai riset yang menunjukkan angka pengguna internet aktif di Indonesia beserta demografinya.

    • rioseto mengatakan:

      Saya selalu saja keduluan mas Callighan! Sengaja ditunda buat artikel nanti. Pelan-pelan, memancing couriosity. Eh, tidak banyak juga yang nanya, salah artikel barangkali, ya. Hehe… komentar cukup rame di blog kompetisi Kompasiana.

      Masih ada beberapa artikel, sampai kepada usaha dari sekelompok orang yang ingin mengembangkan komputer ‘made in Indonesia‘. Maunya…

      Anyway, thanks a lot, Sir.

  3. rioseto mengatakan:

    Terimakasih mas Jumal! Masih tetap belajar, saya masih belajar menulis blog, mas Jumal sekarang belajar berdialog sama Kepala Desa, ya ‘kan (sudah? harus berhasil, sukses!)

  4. Mr.o2n mengatakan:

    Waw blognya makin kinclong aja nh,salut de ama mas,baru dua bulan bikin blog ini,tapi uda seribu lbh pengungjungnya dan uda 47 artikel yg di terbitkannya.benar2 nh yg punya blog seorang penulis yg bisa di andalkan

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: