Uang Itu Akibat, Bukan Tujuan

(update) Dua artikel “Horee, Sekolah Bisa Gratis” dan “Horee, Saya Jadi Presiden Bank Syariah”, telah diluncurkan di kompetisi IB Blogger Kompasiana minggu lalu dan blog ini. Gagasan peran SDM dan “ayah angkat” bank syariah sebagai kesatuan dalam memajukan bank belum terlihat. Berikut gambaran  gagasan utuh.

Bank png1

Di artikel ‘Jadi Presiden’ saya gagal memenangi kompetisi karena kebodohan memikir terlalu dalam dan jauh sehingga dilecehkan ‘impossible’. Mereka benar, tidak salah. Hanya saya terkagum-kagum menyaksikan betapa cepatnya informasi berlalu lintas sekarang ini. Perangkat akses informasi komputer dan ponsel saling berpacu dahulu mendahului untuk mentransfer uang, rupiah bisa dolar bisa. Begitu mudah dan cepat sehingga tak perlu repot pergi, parkir, antri. Layanan tersedia penuh setiap saat, “24/7”.

Teknologi begitu vital bagi peningkatan kualitas layanan bank terhadap nasabah, sebuah kunci dari mana bank mengandalkan kehidupannya. Pembayaran berbelit dan lama akan ditinggal. Bank harus segera keluar dari zona nyaman.

Teknologi begitu canggih hingga transaksi jual-beli misalnya, bisa jadi kembali ke habitat asalnya, tukar-menukar komoditi. Surat tanah kirim via internet ke bank berikut cap jempol atau iris mata untuk keabsahannya. Cek sana sini dan beres. Transaksi tukar-menukar disepakati, jadi.

Sebagian tanah ditandai secara legal telah berganti pemilik, ditukar digantikan kupon “uang” di dalam ponsel.  Kupon bisa dibelanjakan apa saja. Mau ditukar gelang emas di toko nanti? Aha saya lupa, gagasan semacam ini yang membuat saya telah jatuh, gagal jadi presiden kemarin itu.

Andai tukar-menukar benar terjadi, adakah bank syariah jadi yang pertama, yang di depan, melayani kepentingan nasabah secara instan dan prima?

Teknostruktur (istilah infrastruktur berbasis teknologi) bank harus dibangun, tenaga operator, manajemen, dan lain-lain. SDM harus dididik dan dilatih di semua lini atau strata. Dari sekarang kalau mau menang.

Itu fungsi bank; satu fungsi lagi adalah misi syariah. Konsep mulia syariah untuk berbagi, diperluas ruang lingkupnya dengan keterlibatan aktif bank memberdayakan SDM dengan memanfaatkan teknologi mengantarkan mereka jadi pekerja (pegawai, pendidik, periset/ilmuwan, dst.) unggulan, dan pelaku ekonomi (wirausahawan) andal.

Wirausahawan perlu mendapat perhatian istimewa mengejar target jumlah 2% populasi. Ada sekitar 4 juta wirausahawan. Jika satu sanggup menyerap pegawai 10 orang, ada 40 juta yang bekerja, ada 160 juta orang yang kenyang (suami, isteri, 2 anak). Tinggal hitung pendapatan bank per tahun kalau usahawan menyisihkan 1 juta rupiah per bulan untuk pajak dan bagi hasil! Wow, ini bukan dolanan, bukan main-main.

Belum dihitung pendapatan dari pegawai atau pekerja yang produktif seperti yang dibahas pada artikel ‘Sekolah Gratis’.

Kejelian bank membantu mengembangkan usaha, membuahkan lapangan kerja untuk menyalurkan potensi SDM asuhannya. Produktivitas, atau nilai tambah, yang dirangsang dengan gaji/upah Rp.10 juta per bulan, kalau dihitung masih layak secara ekonomi untuk mengompensasi bersekolah gratis.

world o-l-p-c-s

Bank bisa menjadi yang terdepan kalau berani membuat terobosan dengan memanfaatkan teknologi masa datang. Melalui peta jalan (roadmap) yang jelas, tajam, serta terarah, sudah saatnya tiba bank sudah siap meloncat ke sini. Horee, numero uno! Jadilah, bintangnya bank.

Dengan itikad baik dan tekad keras menerapkan konsep berbagi demi kemajuan anak bangsa, semua beruntung, semua menerima manfaatnya. Berbagi itu, tidak rugi.

Uang datang sebagai akibat, bukan tujuan…

Tagged with: , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Lain-Lain
6 comments on “Uang Itu Akibat, Bukan Tujuan
  1. […] relevan: 1. Uang itu Akibat Bukan Tujuan 2. Meluncurkan Blog Hipotetikal 4: […]

  2. rioseto mengatakan:

    Waduuh terimakasih banyak… benar-benar mas Callighan seorang psikolog sejati! You can read minds from writings! Tak cuma body, juga writing language bisa cerita, ya mas Callighan.

    Benar begitu adanya, menjelaskan suatu gagasan secara sistematis dalam tulisan pendek, takut salah mengerti, terlalu panjang, saya yang tersesat dan bertele-tele. Tidak ditulis, salah, tulisan artikel lain berhubungan; ditunda menunggu disempurnakan, salah juga. Uiih…, nekat saja; salah sedikit, yoo, wis . Begitulah jadinya.

    Saya orang Jawa tetapi tertinggal (sejak kecil di Jawa Barat), baru tahu dari mas Callighan. Terus terang ini saya jalani dan berhasil. Ada orang Jepang transfer duit “m” ke account saya tanpa kenal(!) untuk sebuah bisnis dengan kontrak hanya melalui faks! (Sayang, gagal; orang luar bisa percaya, orang dalam tidak bisa dipercaya. Wah, malu sekali, seharusnya aku hara-kiri.)

    Artikel setelah ini (2 bagian, sudah terbit), saya sedikit nakal, mencoba memberi kredit kepada orang tanpa menyebut nama diri (pssst… jangan bilang-bilang).

  3. callighan mengatakan:

    Menurut saya, artikel “Jadi Presiden” mas Rioseto tidak berhasil mengkomunikasikan ide mas yang baik. Memang kesulitan utama dalam menulis artikel pendek ya mengkomunikasikan ide. Gimana mau nulis sedikit, lha wong bahasanya luas. Tetapi tetap jiwa tulisanya bagus. Dan yang lebih bagus lagi, pokok-pokok idenya dikembangan lagi oleh mas di artikel yang lain.

    Mengenai filosofi “uang itu akibat, bukan tujuan”, saya rasa filosofi ini merupakan filosofi luhur yang sebenarnya dimiliki bangsa. Banyak tetua yang saya kenal mengutamakan kerja keras tanpa pamrih, dan mereka terbukti bisa hidup dengan layak hingga tua dan bercucu-cicit.

    Ngomong-ngomong, kok kalimat pokok pemikiran filsafat itu pernah saya dengar dari filsafat jawa ya?

    Hehe… kaya juga khazanah filsafat Nusantara.

  4. […] Itu Akibat, Bukan Tujuan” yang dimuat di rioseto’s blog dan Kompasiana, tidak terlalu mudah difahami. Untuk apa kita bekerja? Beda susunan kata, kita […]

  5. rioseto mengatakan:

    Sebetulnya sederhana saja sih, uang datang sendiri kalau kita bekerja bersungguh-sungguh dan pandai-pandai menempatkan diri. Kita lalu dipercaya dan ditawari pekerjaan yang lebih besar begitu terus seperti spiral… duit otomatis ikut, ya.

  6. l.ahsan-raha mengatakan:

    Uang sebagai akibat, bukan tujuan. Oke, setuju!!!
    Dengan uang manusia bisa menjadi mulia dan terhormat, tetapi dengan uang pula manusia bisa jadi jahat dan terhina !!!

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: