Ask What You Can Do for Your Country

Blog TESDC1 png

Uang Itu Akibat, Bukan Tujuan” yang dimuat di rioseto’s blog dan Kompasiana, tidak terlalu mudah difahami. Untuk apa kita bekerja? Beda susunan kata, kita bekerja untuk uang dan uang bekerja untuk kita, beda artinya. Ungkapan pertama jelas; ungkapan ke dua biasa dipakai dalam dunia marketing. Saya memilih ungkapan ke tiga, kita bekerja sebaik-baiknya, uang biarlah mengalir sendiri datang menghampiri. Bukankah kalau kita bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh, tanpa pamrih, banyak posisi ditawarkan kepada kita?

Kita kadang-kadang (sering?) terbalik, mana uangnya nanti saya kerjakan. Celaka tiga belas, uang sudah, kerja tidak. Malu..uu, ya. Penerapan ungkapan terakhir dan rasa malu, berhasil membuat sebuah institusi pendidikan tinggi melakukan penelitian bersama dalam teknologi penjernihan air dengan sebuah industri global Jepang. Bukan suatu hal  mudah, apalagi hingga industri bersedia membuka rahasia ”dapur”nya, mengalihkan teknologi terkininya ke Indonesia. Departemen Perindustrian konon sudah memasukkan kolaborasi 2 instansi berbeda ini sebagai salahsatu calon yang layak menerima award perintisan teknologi baru di Indonesia. Apresiasi yang sungguh simpatik, semogalah menang.

Menang adalah sebuah prestasi, tetapi bukan yang terpenting; memelihara kemitraan yang baik dengan industri, itulah prestasi. Industri dekat dengan pasar; industri tahu apa yang diperlukan masyarakat. Kedekatan institusi pendidikan tinggi dengan industri, sangat strategis di dalam memajukan institusi. Banyak sudah contoh. Institusi harus berpikir layaknya entrepreneur, menjadikan institusi entreprise”cantik”, yang banyak dilirik dan diminati.

Manfaat kerjasama dengan industri? Alih teknologi dan lapangan kerja, antara lain. Lalu uangnya? Bisa datang dari mana-mana, royalti paten/hak cipta, penjualan, pengadaan komponen, konsultan, pelatihan, layanan kustomer, instalasi, jasa daur ulang, dan bisnis perluasan aplikasi air bersih. Air bersih, siapa tak butuh? Bahkan komoditi ini bakal diperebutkan suatu saat, lihat ”Hello World! Tentang Air”. Begitu bernilainya.

Jadi, uang itu ada. Di belakang!

Wah, sakti juga ungkapan ke tiga dan rasa malu kalau bisa sampai menjadi pembuka jalan mendatangkan uang, ya.

Connect the Unconnected, Our Way

Blog TESDC2 jpg”Resep” ini ingin dicobakan juga untuk bisa menggaet institusi finansial. Belum dicoba. Tetapi hari Senin tanggal 3 Agustus lalu, ada upacara serah terima SDM dari Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia) ke Polman (Politeknik Manufaktur) di Bandung, untuk dilatih ketrampilan mekanika selama 6 bulan. SDM selain nanti dimanfaatkan Peruri sendiri, kompetensinya yang diakui dunia memungkinkan mereka mudah diterima bekerja di mana-mana.

Horee, …Indonesia sudah seluas dunia!

Pelatihan ditangani sebuah unit kecil, TESDC (Technical & Entrepreneurial Skill Development Center). Lembaga diciptakan atas prakarsa bersama Polman dengan Yayasan Citra Siliwangi untuk melayani hal-hal semacam ini; masih muda, belum 3 bulan, dengan visi dan misi memenuhi tenaga trampil kelas dunia, yang juga digembleng dan ditempa berjiwa wirausaha. Coba kita lihat nanti hasilnya.

Dalam kesempatan bincang-bincang diluar forum, Dirut Peruri pak Junino Jahja (ejaan lama) didampingi Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) pak Jumhur Hidayat (ejaan baru), mendorong kita agar bisa berbuat hal-hal bermanfaat lebih banyak lagi. Salahsatu topik yang disinggung adalah elektronika. Produk elektronika sudah jadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Mengapa tidak berupaya membuat sebagiannya sendiri? Peruri siap berdiri di belakang. Horee… made in Indonesia. Maunya.

Ini dia, pucuk dicinta ulam tiba.

TESDC berpikir keras bersama-sama mitranya, bagaimana menyambut tawaran Peruri dengan mengangkat 1-2 contoh produk yang akan dikerjakan habis-habisan hingga berhasil jadi sebuah kisah sukses. Sukses secara teknis, iya, sukses secara ekonomis, iya.

“Resep” lama akan dipakai ulang, dengan penyempurnaan, mengingat teknologi elektronika bukan milik kita. Teknologi berada di luar sana; keberhasilannya sangat bergantung kepada keberhasilan membangun link dengan semua unsur, connect the unconnected: SDM, teknologi, finansial, dan pasar. Persis seperti menyusun sebuah mosaik…

Untuk yang satu ini, TESDC/Polman dan Peruri sudah (hampir) connect.

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Lain-Lain
6 comments on “Ask What You Can Do for Your Country
  1. rioseto mengatakan:

    Komentar adalah feedback, indikator keberhasilan penyerapan materi. (Suka sebel lihat murid tidak bertanya, lihat papan tulis dengan “mata bandeng”, melotot gede, tetapi begitu ditanya balik, blong, kosong, …dasar guru!) Berarti gurunya yang salah, ya ‘kan?

    Komentar seperti mas Callighan yang saya perlukan. Kritik/saran membangun. Kalau ada komentar sinis juga boleh, dibalas cukup hua..ha..ha. No (never) hard feelings!

    Horee.. kalau begitu ada 2 kelompok audiens.
    (Berpikir lagi, bagaimana memanfaatkan 2 komunitas berbeda ini.)

  2. rioseto mengatakan:

    😀
    Itu yang mau saya eksperimenkan dengan blog ini. Saya pikir gaul itu ada kelasnya, jadi gaya ‘loe-gua’ di dunia nyata ya kalau masuk di maya tidak jauh dari habitatnya, ketemunya pastilah kelompok sejenis, ‘loe-gua’, lagi. Coba deh blog walking… banyak temuan menarik.

    Menentukan kelas gaul penting bagi saya untuk mewujudkan impian besar, berpikir besar, bisa gaul dengan orang besar, tetapi laksanakan mulai dengan yang kecil. Ooh, itu maksudnya ‘kali ya, think global act local?

    Karena itu bobot artikel seperti apa di blog agar menjadi sebuah tool efektif hingga orang besar mengert tanpa harus merasa digurui… tulisan sama di blog dan Kompasiana, mengapa hitsnya bisa jauh lebih tinggi Kompasiana?

    What’s wrong?

    Ayo keluarkan psikologinya, mas Callighan. Tolong kaji fenomena atau perilaku apa ini. Buat artikelnya, kayaknya asyik juga.

    • callighan mengatakan:

      Komentar di Kompasiana lebih banyak dan lebih “berisi” kan?
      Ya faktor audiens lah.
      Mas rio juga, menulis karena ingin mengeluarkan pikiran atau karena ingin tulisanya dikomentari?😀

  3. callighan mengatakan:

    Kalau begitu dinamika sosial di dalam kehidupan maya sama dengan dinamika sosial kehidupan nyata ya?

    Kalau orang jago bergaul di keseharianya, dia jago gaul di web dong?

    Jadi ingat teori Malcolm Gladwell; seseorang sukses karena lingkunganya, bukan semata-mata kemambuan dalam pribadinya. Nah, kesusksesan hidup di dunia maya pun juga tergantung dari kemampuan membangun lingkungan sosialnya dong?

    Oke oke.. mari menginjak bumi lagi.😀

  4. rioseto mengatakan:

    Sangat! Urutan kasar kira-kira begini, gaul (membangun network) – diskusi/akrab – trust – kasih kerjaan – kerjakan/layani (dengan tulus & baik). Jangan tanya duitnya berapa. Gratis. Sekali, dua kali, (tiga kali), cukup. Kita sudah menang, bargaining position sudah di atas; mas Arham punya power menolak pekerjaan ke-3 dan seterusnya. Di situ terjadi deal, tinggal kepantasan saja berapa… hehe.

    Meski kita sudah dihargai, ada “nilai”nya, tetaplah low profile. Buat mitra jatuh cinta, kondisikan sehingga bergantung kepada kita. Bisnis tumbuh besar mengikuti lintasan spiral.

    Akhirnya hubungan bisnis bukan berdasarkan kompetensi lagi. Mitra percaya penuh, posisi kita bergeser menjadi semacam ‘Help Desk’, minta tolong untuk hal-hal yang ‘o-o-t’. Ini inti cerita ‘Connect the unconnected’ itu.

    Sukses berkat jadi “Pelayan”!

  5. Arham blogpreneur mengatakan:

    Apakah ini artinya networking dibutuhkan sebagai peran meraih ‘akibat’ ?

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: