Kreativitas & Teknologi

RITECH_08-PunyaMimpi

(Jangan Biarkan Kami Tumbuh Seadanya, Bimbinglah Kami, Pliiiiiissss)

Hari kemarin resmi dibuka Ritech Expo 2009 dengan tema “Kreativitas & Teknologi, Indonesia Bisa”, di Plaza Barat Senayan. Tema ingin berceritera, teknologi tanpa kreativitas atau kreativitas tanpa teknologi, tidak memberi nilai lebih alias nihil. Kita ingin memaknai kebesaran bangsa ini dengan keberhasilan menciptakan nilai menggabungkan teknologi dengan kreativitas.

Kita ingin generasi muda yang masih lucu dan sesekali nakal ini, sadar, di tangan merekalah nanti masa depan negeri ini berada. Mereka pasti juga punya mimpi bagaimana membesarkan negara ini. Namun ibarat secarik kertas putih bersih tanpa noda, tugas kita menulisi, membekali, hingga mereka siap mewujudkan impiannya dengan cara mereka sendiri!

Beri mereka kesempatan menjadi seperti yang mereka ingini; biarkan mereka tahu cara memenangi kompetisi global, selain mengandalkan unggulan kompetitif (competitive advantage, kita punya dia tidak punya), juga ada unggulan komparatif (comparative advantage, kita punya dia juga punya) yang hanya bisa diungguli oleh teknologi dan kreativitas!

Banyak aset bernilai yang bisa mendunia terdapat di negeri ini, entah tanahnya, airnya, atau pun orangnya. Contoh mudah, bukankah beras lebih tinggi nilainya setelah menjadi nasi, setelah menjadi ketupat, setelah menjadi tepung kue, setelah menjadi ramuan obat atau ramuan menyantikkan? Setiap peningkatan nilai pasti perlu teknologi dan kreativitas.

Kakak beradik terkaya di bawah 40 tahun (tahun 2000) di lembah silikon Amerika, adalah orang Indonesia. Mereka tahu produk apa yang diperlukan di masa mendatang. Dibuat dan berhasil. Kini industri hi-tech mereka, ada di mana-mana, saling melengkapi untuk mewujudkan impian berikutnya.

Produk yang satu ini industrinya hanya di sini, tetapi produknya sedunia. Produk sepele ini lo-tech, mudah ditiru, tetapi lebih 50% kebutuhan dunia berhasil dipasok industri karena daya kreativitas yang tak pernah kering.

Selain produk, demikian juga jasa. Pernah dengar komik, animasi, gambar kartun, iklan, dan sejenisnya, yang beredar di dunia itu adalah buatan Indonesia? Berkat teknologi dan kreativitas. Siapa dan apa tidak dipublikasikan karena menyangkut etika bisnis, meski kita ingin juga dengar-dengar sedikit. Boleh ‘kan, agar anak-anak kita termotivasi.

Masih banyak contoh produk mendunia lain. Kita hebat tetapi mengapa tidak dihebatkan? Kalau kita tidak bangga terhadap nilai hasil karya sendiri, lalu siapa? Hanya sekali-kali diangkat, terkadang dibukukan, selanjutnya terlupakan. Padahal kalau bisa jadilah seperti blog atau koran itu, konten selalu diperbaharui berkala, dipublikasi, kalau benar hebat, diangkat dan diberi award. Diumumkan ke dunia, bila perlu. Mengapa tidak?

Mungkinkah perlu mata pelajaran sejarah moderen, mengisahkan kepahlawanan anak bangsa yang berhasil berkiprah mendunia di berbagai bidang, termasuk olahraga, untuk membukakan mata dan membentuk pola pikir generasi muda, pentingnya membuka jalan juara melalui penciptaan nilai dengan memanfaatkan teknologi dan mengembangkan habis kreativitas?

RITECH_07-PunyaMimpiKita hebat, kita bisa, tetapi baru saja kecolongan menciptakan sebuah blog baru berjudul “070809”, seiring tanggal pembukaan Ritech, kalau mau dianggap bilangan memiliki arti istimewa!

Tagged with: , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Lain-Lain
8 comments on “Kreativitas & Teknologi
  1. BundaPreneur berkata:

    Susah ya mas mengedukasi tentang HAKI.di tempat saya baru dirintis.tapi susah mendapat dukungan dr instansi…

    • rioseto berkata:

      Sabaa..ar Bunda, semua perlu waktu untuk memahami HaKI adalah aset yang memiliki kekuatan untuk berkompetisi global.

      Perlu dipikirkan cara bagaimana ide atau gagasan Bunda yang semula layak HaKI, dibuat teralik dengan menjadi publik dan kita tetap bisa ikut menikmati royaltinya… (mungkin jadikan buku, misalnya).

  2. wahyu am berkata:

    merdeka!!

    • rioseto berkata:

      Merdeka lagi mas Wahyu, pameran “Kreativitas & Teknologi, Indonesia Bisa” itu punyanya MenRistek, baru saja ditutup tanggal 10 Agustus 2009 kemarin. Kita-kita majukan teknologi bloging saja, sudah berarti banyak, dan mas Wahyu tinggal menggalakkan Pesta Blogger 2009, yang baru saja diikuti itu, ya. (Masih ada kaus tersisa buat orang Bandung?)

      Just kidding.

  3. Mr.o2n berkata:

    Saya sangat ingin ngajarink anak2 di dusun saya agar dapat mengenal sedikit dengang teknologi,tapi apa boleh buat mungkin otak dusunya sudah mendara daging jadi tidak ada yg mau di ajaring,padahal aku tidak memungut biaya,malahan saya yg ngeluarin kocek buat ksh contoh kecil seperti internet,tapi hasilnya nihil.
    Oy,mas aku punya blog baru lagi namanya aku ambil dari nama desaku datang ya,tidak kasih koment juga tidak apa2 mas yg penting iklan dari googlenya aja yg di klick salam

    • rioseto berkata:

      Horeee.. selamat buat mas Jumal! Ini yang namanya maju. Untuk mengajari dusun perlu waktu, tidak bisa dipaksa. Di blog Dusun yang baru itu coba isi dengan artikel seperti ini. (Pssst… jangan bilang-bilang, ya) Artikel-1 “Ini Dusunku!” Artikel-2 “Hebatnya Kepala Dusun Aku” Artikel-3 “Pak Salam, Petani Berhasil di Dusunku” Artikel-4 “Ibu Sari, Berjualan di Pasar Untuk Menyekolahkan Anaknya”, …. dst. dst. Lengkapi foto dan sedikit wawancara. Wow.

      Perhatikan saja hasilnya. Mas Jumal sendiri, jangan digede-gedein, ya. Biar mas Jumal gede alami, berkat menggedekan orang lain dan dusunnya, melalui artikel di blog!

  4. callighan berkata:

    Setiktar tahun 2006, ada “Intellectual Property Fair” di sekitar kampus UI. Di dalam salah satu seminarnya dibahas mengenai betapa orang Indonesia tidak “melek HAKI”.
    Mudah-mudahan generasi muda Indonesia selain kreatif juga melek HAKI.

    • rioseto berkata:

      Dari sisi kita, generasi muda: selama ‘Nyontek’ dan ‘Bajak’ masih mungkin, lampu Creativity & Innovation tidak menyala. Karena itu belum merasa perlu HaKI. ‘N’ dan ‘B’ tidak salah, karena begitulah cara kita menjadi pandai sejak lahir. Dalam bahasa jargon, reverse engineering, kemudian diperhalus, re-engineering. Pendidikan di rumah, di sekolah, dan lingkunganlah yang harus memandu kita agar kedua kata bergeser menjadi ‘C’ dan ‘I’. Saya menyebutnya kepada murid, pelajaran saya adalah pelajaran “Ooh begitu, ya…”. Di sini mereka diharapkan bisa mengapresiasi HaKI.

      Dari sisi HaKI: grup riset kami punya 2 patent pending, sudah diajukan, didaftar, diperiksa, akhirnya keduanya saya gugurkan karena terlalu lama dan sudah beredar di pasar.

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: