Tahun 2025 Makmur, Bukan Ilusi

Illusi_Flags_BizWk-160508 sm

Besok kita merayakan ulang tahun kemerdekaan ke 64.

Menurut Visi Indonesia 2030 (oleh Yayasan Indonesia Forum), Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 dunia di tahun 2030 setelah Cina, India, Amerika, Uni Eropa. Perkiraan pendapatan per kapita Indonesia 18.000 dolar, inflasi 4.2%, PDB 5.1 triliun dolar, pertumbuhan ekonomi 6-7% per tahun. Tiga puluh perusahaan Indonesia masuk daftar 500 perusahaan terbaik dunia. Sebuah mimpi yang luar biasa.

Populasi diperkirakan mencapai 285 juta jiwa, namun dengan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata 7,62 %, jauh lebih cepat dibandingkan laju inflasi yang 4,95 %, dapat ditafsirkan makmur! Indikasi ini diingatkan presiden dalam pidato kenegaraannya kemarin agar Indonesia “naik kelas” sebagai salahsatu negara maju tahun 2025.

Tinggal 15-20 tahun lagi! Bisakah?

Waktu 2 dasa warsa relatif sangat pendek. Apa rencana dan tindakan yang harus dan perlu dilakukan dalam kurun sependek itu agar Indonesia berkibar? Ini parameternya, antara lain.

Illusi_Flags_BizWk-061107Pe-er’ besar menunggu kita di depan! Data memberi sinyal kita harus bekerja luar biasa keras. (Data untuk Indonesia, hasil rekaan saja.) Siapa pun pemimpin negeri ini, sekarang, nanti, yang akan datang, harus bertekad keras menuntaskan ‘pe-er’ memegang teguh kemudi dan pedoman yang sama, melayarkan bahtera negeri menuju sasaran dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan berpikir positif, nothing is impossible. Tinggalkan umbar semboyan, bermain-main, ikut diombang-ambing arus maju-mundur seperti gambar ini,

Illusi_Sigma-Motion-L

(Gerakkan telunjuk ke kiri dengan kecepatan tertentu sehingga garis bergerak mengikuti telunjuk; kebalikannya, gerakkan telunjuk ke kanan, garis ikut bergerak ke kanan. Telunjuk pimpinan, garis hitam kita.)

Apa pun pekerjaan atau jabatan saat ini, kita adalah pelayan. Syukuri dan jadilah pelayan panutan yang berbangga meladeni negeri tercinta dengan sebaik-baiknya, yang bekerja tanpa pamrih, tanpa dolanan. Masyarakat juga berhentilah mengeluh, cengeng, manja, apa-apa ‘nggak bisa, sedikit-sedikit minta.

Illusi_Blog_BizWk-May2005Blog kini sudah berubah bentuk bukan lagi sekedar catatan harian, tetapi sebuah perangkat ampuh yang patut diperhitungkan sebagai bagian perjuangan mewujudkan impian 2025 -2030; ‘catch up.. or catch you later’ yang disadur bebas, “tangkaplah aku, … atau kutangkap dikau nanti!” Mari para bloger dan calon bloger, kita angkat “pena” dan bangun kekuatan kolektif dengan beramai-ramai menulis di blog.

‘Ngeblog’!

Gemah ripah loh jinawi, dirgahayu Indonesia!

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
13 comments on “Tahun 2025 Makmur, Bukan Ilusi
  1. rioseto berkata:

    Betul BundaPreneur, blog sudah berubah bentuk, sudah lebih banyak pilihannya, sekarang kita punya kesempatan emas untuk memanfaatkannya sebaik mungkin… sayang kalau dilewatkan, demi tahun 2025 makmur. Bantu saya dong Bunda, buat artikel pencerahan, menggiring mindset para blogger jadi blogpreneur!

  2. BundaPreneur berkata:

    Terimakasih untuk artikel dan komentar pencerahanya.LuarBiasa!! Mengoptimalkan blog untuk pencerahan.

  3. kunilkuda berkata:

    Sistem fractional reserve itu dilahirkan dari pengamatan bahwa jumlah supply uang yang beredar mendorong investasi, pembukaan lapangan kerja baru, penciptaan nilai tersier (contoh: software komputer..nilai real-nya sebenarnya tidak ada, tapi karena punya link dengan nilai real, jadi punya nilai), dsb-nya.

    Jumlah suppy uang yang berdasar komoditi (contoh: emas) mempunyai kelemahan: jumlah emas terbatas, tapi permintaan tinggi..akhirnya banyak negara/pribadi yang tidak punya uang sama sekali karena sulitnya mendapatkan emas. Karena uang sulit didapat, pasar tidak jalan (karena sulit berjualan dengan sistem barter). Karena tidak ada pasar, investasi minim, lapangan kerja ga berkembang, uang juga jadi tidak berguna (karena tidak bisa digunakan untuk barter).

    Puncaknya, setelah perang dunia II, dan dunia porak-poranda, para ekonom dunia memutuskan bahwa supply uang berdasarkan komoditi harus diakhiri supaya ekonomi dunia bisa jalan untuk memperbaiki kerusakan perang. Lahirlah ‘Bretton Woods system’ (http://en.wikipedia.org/wiki/Bretton_Woods_system), yang mendasari konsep Fractional Reserve banking (http://en.wikipedia.org/wiki/Fractional-reserve_banking)

    Masalahnya system Bretton Woods itu tidak lengkap, karena ekuilibrium nilai uang-nilai real sulit dihitung (ga ada rumusnya). Jadi, meskipun pada awalnya supply uang yang tinggi mendorong investasi, pada akhirnya akan melemahkan daya beli (yang berujung pada melemahnya investasi).

    Disinilah peran Adam Smith, dan John Forbes Nash (nonton ‘Beautiful Minds’ ga si?). Beliau-beliau itu berusaha menggali teori ekuilibrium ekonomi. Walaupun akhirnya cuma bisa mendapatkan dikit, tapi itu cukup membantu untuk desain sistem ekonomi.

    Tentunya di masa depan, kita mengharapkan ilmuwan ekonomi mampu menemukan teori ekuilibrium yang lengkap, supaya kita bisa merancang sistem yang lebih baik.

    Saya rasa untuk 64-tahun ultah Indonesia, salah satu hal yang harus kita diubah adalah sikap pre-judice berdasarkan warna kulit, warga negara, barat-timur, dsb-nya. Betul bahwa barat tidak sempurna, tapi bukan berarti bahwa sistem kita juga sempurna.

    Mentalisme bahwa kita sudah perfect, arogansi bahwa kita lebih baik dari kebanyakan negara lain, harus dibuang. Rendah hati, bersedia untuk belajar dari orang lain, bersedia menerima kritik, dan ketekunan, saya rasa itu jauh lebih penting untuk mencapai visi 2025 makmur.

    MERDEKA !!

    • rioseto berkata:

      Thanks juga pencerahannya mas Kunil… mari kita berpikir dengan kepala dingin, what is best for our country.

    • callighan berkata:

      So when the amount of money available decreases (thus causing a recession) where does the money go?

      And how can a country be arrogant of itself when its successes and failures are caused by implementing foreign ideas?

      And John Forbes Nash.. yeah. Awesome guy. Tragic tale, brilliant mind. I wonder if Hawking has similar thought processes?

  4. rioseto berkata:

    Unutk mas Callighan, terimakasih banyak pencerahannya. Semoga dibaca dan membuka pikiran para “telunjuk”…

  5. ILYAS AFSOH berkata:

    saya percaya, indonesia akan jadi negara maju dan besar

  6. callighan berkata:

    Mengapa ahrus mengikuti petunjuk “gerakkan telunjuk…” dan masuk ke dalam perangkap garis-garis yang mengombang-ambing?

    Mengapa pula mengikuti indikator-indikator kemakmuran yang bernenek-moyang pemikiran klasik Adam Smith?
    Siklus boom and bust, efek multiplier, efek accelerator, siklus uang, barang, jasa, dan investasi yang dipolakan oleh teori ekonomi makro eropa barat bisa menjadikan perangkap apabila para pemegang kekuasaan tidak memiliki kearifan dalam menggali sosiologi ekonomi masyarakat Indonesia yang memiliki kekhasan.

    Ya, saya harap tahun 2025 kita makmur. Bukan ilusi.
    Saya juga berharap tahun 2025 pornografi menjadi legal di Indonesia. Bukan ilusi juga?

    While nothing is impossible, it’s also impossible to achieve prosperity in a money economy that is based on the fractional reserve banking system which is currently the international rule of thumb.

    • rioseto berkata:

      Horee… ini baru merdeka!

      Telunjuk dan bar hitam ombang-ambing itu cuma representasi kondisi masyarakat kita, yang masih mencari bentuk di masa transisi menuju kondisi yang lebih baik. Tidak tahu caranya, tidak tahu mau ke mana, baik bar hitam maupun telunjuknya.

      Dalam proses mendapatkan solusi, jalannya berliku, terbalik, become part of the problem, lalu chaos, terus buat aturan yang partial solution, dikoreksi kembali besok lusa. Kita bingung.

      Mas Callighan punya ide memajukan ekonomi yang hanya bisa di Indonesia, di Barat tidak bisa? Ini soal keberanian dan kebanggaan “telunjuk”. Mengapa Jepang berani buat standar sendiri, 100 volt, steker, sistem CMDA, video, dll., dan sekarang QR code yang konon mulai diikuti Barat dan dikembangkan untuk mengisi informasi lebih besar seperti video. Mengapa kita tidak berani? Konsep “lumbung”, misalnya. Buat tulisannya di sini, mau? Let’s do something. Kita ganggu mereka. Mereka perlu masukan juga.

      Gagasan bodoh saya sekarang sih, menerapkan formula “n x 1”; n adalah masal (jumlah pelaku ekonomi, semua tingkatan) dan 1 adalah margin (misalkan $1); 1% penduduk atau 2 juta x $1 per hari = 20 milyar! Ingin tahu apakah blog bisa berperan meski jumlah hanya puluhan ribu saja (margin dinaikkan $10 per hari?). Trik memindahkan isi kocek dolar dari luar ke dalam sini adalah sebuah seni, seni “penjarahan” yang menarik.

      Pornografi sepertinya masih akan bertahan lama sebagai ilusi; sukar mendapat tempat nyaman dan aman di sini. Ganti mindset, bahwa itu hanya seni biasa dan alami, mungkin perlu beberapa generasi. Alah bisa karena (ter)biasa…

      • callighan berkata:

        Galilah dari budaya yang ada di masyarakat.
        Masyarakat di sini adalah masyarakat luas; tidak cuma di kota, tetapi di pedalaman dan di daerah-daerah yang tidak lazim dikunjungi.

        Dalam rapat BPUPKI, Soepomo bisa turut mengajukan dan mengembangkan sistem pemerintahan Indonesia yang didasari musyawarah pedesaan. Sistem ini adalah musyawarah mufakat. Dan ini adalah hal yang nyata ada dalam masyarakat kita hingga kini. Dalam kelompok, kita jauh lebih banyak berembug daripada melakukan voting. Ini berbeda sekali dengan pengalaman saya di masyarakat barat yang kerap menerapkan voting dan majority rules.
        Apabila para bapak bangsa dalam BPUPKI menggali sosiologi bangsa sebagai penentu sistem pemerintahan, sebaiknya kita kembali lagi menggali kekayaan kebudayaan masyarakat majemuk kita.

        Selain itu, jangan melupakan sejarah.

        Di dalam salah satu rapat BPUPKI, disebutkan bahwa ekonomi Indonesia adalah ekonomi yang didasari pada tolong-menolong. Sekali lagi, ekonomi Indonesia didasari oleh tolong-menolong, bukan enterprise yang berdasarkan pada semangat berproduksi untuk memperoleh kekayaan yang mengindahkan exploitation de l’homme par l’homme.

        Dalam teori ekonomi makro, savings, perdagangan internasional, dan penyimpanan uang diluar bank (dimana tidak terjadi investasi kembali) disebut sebagai kebocoran.
        Apabila Mas Rioseto sukses melakukan “penjarahan” dollar, maka Mas Rioseto telah membantu menutupi kebocoran tersebut.
        Ini baik untuk bangsa secara luas apabila hasil “penjarahan” tersebut dialirkan kembali kepada aliran uang di Indonesia.
        Sayapun berharap bisa melakukan yang demikian.

        Cuma ironisnya, “penjarahan” dollar justru dapat menjerat rakyat jelata Amerika Serikat lebih lanjut ke dalam perbudakan moneter.

        Well, daripada pusing, mari kita download dan nikmati bersama pornonya sebelum porno dilarang (eh, sudah ya?).
        Oalah… balada Soma di masyarakat pascamodern! Aldous Huxley meringis di kuburan nih…

  7. Mas, makasih sudah berkunjung ke blog saya…saya sudah liat dan baca blog mas, bagus2.
    Oya, soal e-learning center, saya tahu karena letaknya di Peunayong, dekat dengan kantor lama saya…malah, saya sering menumpang internet gratis di tempat itu…hehehe…
    senang berkenalan dengan mas.

    • rioseto berkata:

      Ooh begitu, ya. Salam kenal juga dan senang mendengar pernah berkunjung ke sana, nanti saya laporkan ke Taiwan. Masih hidup? Terimakasih banyak mas Taufik atas kunjungannya. Kita semua belajar. Maju terus, merdeka!

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Translate • Terjemahkan
Foto Minggu Ini
Boneka Jepang Geisha

Belajar memotret boneka dengan lampu kilat

%d blogger menyukai ini: