Indonesia Konek 2: Membangun Platform

Eksplorasi informasi di artikel sebelum ini berlanjut dengan eksploitasi informasi. Informasi harus bisa dimanfaatkan. Ada kesenjangan digital, kata orang. Pandangan ini keliru kalau yang dimaksud adalah jarak antara mereka yang mampu beli komputer dengan yang tidak. Kita menyoal masyarakat yang belum tahu dan trampil menggunakan informasi yang tersedia, untuk kepentingannya atau kebaikannya.

Konsep Indonesia Konek adalah upaya menutup kesenjangan akses informasi dengan membangun kanal di semua pelosok daerah hingga pulau terpencil. Belum cukup, pendampingan diperlukan hingga masyarakat benar-benar faham dan merasakan manfaat, atas nilai lebih yang ditawarkan di balik keberadaan informasi tersebut, baik moril maupun materiil.

Karenanya sarana akses di awal, didesain dengan membuat komputer berperan sebagai”caraka” atau ”kurir” informasi, untuk disampaikan ke sekolah, desa, dan masyarakat. Komputer belum perlu canggih dan cepat. Bentuk fisik dan spesifikasi kasar motherboard komputer ‘caraka’ kurang lebih seperti ini (di tengah motherboard-1, di kanan motherboard-2, tersembunyi di balik monitor),

Unit Akses Informasi

Motherboard-DataSpesifikasi boleh disebut kuno dibandingkan dengan komputer sekarang; tidak apa-apa, komputer atau unit akses berfungsi sebagai perkenalan, belum untuk melayani pekerjaan ”berat” yang menuntut kecanggihan dan kecepatan komputasi seperti, menggambar 3-dimensi, video, game, dan sejenisnya. Masyarakat belum memerlukannya. Kalau nanti sudah trampil, mereka bisa entri data, mengolah kata, berkirim email, dan membuat transaksi bisnis kecil-kecilan. Sistem masih sanggup dan belum perlu diganti dengan sistem canggih.

Sebuah komputer biasa yang di”angkat” kemampuannya dengan overclocking, sanggup melayani sekitar 10-15 unit akses. Komputer berfungsi sebagai server. Penempatan unit akses tidak harus berdekatan; unit dapat ditempatkan berjauhan melalui perangkat bantu nirkabel. Konsumsi energi sekitar 35-50 watt saja termasuk monitor.

Pembangunan platform akses informasi diilhami “cyber desa” pembangunan telecenter di Pabelan (Magelang) dan Muneng (Madiun), e-learning center di Banda Aceh yang dibangun dengan donasi Taiwan setelah bencana tsunami, dan LTSP Cybertent (tenda maya Linux Terminal Server Project) di Inggeris.

Unit akses memiliki keunggulan nyaris bebas pemeliharaan, dan diharapkan dapat membantu mempercepat menutup kesenjangan informasi yang terjadi sekarang ini.

Tagged with: , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
5 comments on “Indonesia Konek 2: Membangun Platform
  1. […] unit akses informasi, atau terminal, atau thin client, yang sudah dibahas pada artikel sebelum ini. (1) (2) Bahkan upaya kemandirian untuk yang terakhir, telah dirintis dengan keberhasilan mendesain […]

  2. nusantaraku mengatakan:

    Seperti komentar Taufik Al Mubarak di Buku Tamu, tulisan Pak Rio memang informatif dan jarang diulas oleh blogger lainnya. Informasi serta creative planning yang ditulis membangun suatu spirit baru orang-orang melihat ke depan, melihat Indonesia setidaknya dari sisi teknologi. Menggunakan resource yang seminim mungkin untuk mendapat manfaat sebesar mungkin.
    Platform teknologi ‘sederhana’ untuk “Indonesia connect’ merupakan inspirasi yang baik. Indonesia connect yang mungkin hampir sama dengan konsep Pak Ono Purbo atau Armein Langi.
    Dengan usaha ini, saya mendukung bapak di IB Blogger Competition.
    Good Luck.

    • rioseto mengatakan:

      Hehehe… nusantaraku, terimakasih pujiannya (berlebihan deh). Memang kegiatan ini masih menyatu dengan program Rural Networknya, pak Armein, dan programnya pak Onno. Sumbernya ‘kan satu, Prof. Samaun (alm.). Kita saling melengkapi, khususnya di meja makan sesekali…

      Salam,
      rs

    • nusantaraku mengatakan:

      Oh..begitu.
      Bagus Pak, para dosen bekerja sama memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa, setidaknya dari sisi teknologi sekaligus entrepreneurship. Tentu kegiatan ini bisa berhasil bila berhasil menarik pihak pemodal (capital) untuk bekerja sama. Disisi lain yakni konsumen, semoga melalui media pencerahan seperti blog dapat meyakini kepada bangsa kita bahwa produk kita tidak kalah saing dengan produk luar. Dan bila memang ada yang kurang, bukan berarti selamanya kurang.
      Dengan motivasi ini, dan didukung oleh Ristek maupun Dep. Perindustrian dan Dep. Perdagangan, semoga ITB bisa memberi kontribusi yang tidak kalah dengan universitas lainnya, setidaknya tetap berusaha menjadi Universitas ‘terbaik’.
      Yang pasti, usahanya sudah masuk di inkubator bisnis ITB kan pak?
      Salam.

      • rioseto mengatakan:

        Benar, coba deh tengok kembali posting Horee, ‘Made in Indonesia’ (1), dimana semangat membangun elektronika Indonesia memerlukan 3 generasi hingga kelahiran wimax dan usaha baru (teknopreneur?) dalam jasa dan produk.

        Posting berikutnya adalah “Membangun Link”, cerita sedikit tentang apa yang telah dikerjakan tim pak Armein dkk. Pak Armein tetap riset dan memimpin Pusat Penelitian TIK, timnya membangun dunia riil, clarisense. Kami sepakat untuk bersama-sama membangun daerah.

        Kita total ada sekitar 17 orang dan masing-masing menginkubasi diri sendiri menjadi technopreneur, hehe…

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: