Sebenarnya “Sekolah Gratis-SMK Bisa”, Lolos dari Perhatian


” Ketika pemerintah gembar-gembor beriklan tentang ‘SMK bisa!’, masyarakat semakin apatis. Pasalnya iklan ‘Sekolah Gratis’ yang dipublikasikan sebelumnya juga mengundang kekecewaan yang meluas di mata masyarakat. Sebab nyatanya masih ada pungutan uang untuk dilakukan di sekolah-sekolah negeri.” (Iklan Sekolah Gratis, Apa Iklan Bodong??), Kompasiana, 7 September 2009.)


Isu iklan ‘SMK bisa!’ dan ‘Sekolah Gratis’ masih saja dibahas. Ooh, iklan menyesatkan seperti ini namanya bodong, ya. Bodong atau bohong, beda-beda tipis. Lalu berkelit, “Definisi sekolah gratis menurut pemerintah berbeda dengan definisi sekolah gratis menurut versi masyarakat,” kata Mendiknas Bambang Soedibyo. Rupanya kita berbicara dalam koordinat berbeda. Jadi kita cukupkan sampai di sini, tak perlu berdebat, tak perlu emosional. Percuma, jaka sembung, tidak nyambung.

Tak heran kalau masyarakat pesimis, skeptis, apatis, sinis. Jengkel, iklan diluncurkan oleh sebuah departemen terhormat yang selayaknya diteladani, bertanggung jawab atas masa depan negeri ini melalui pencerdasan anak bangsa! Begitu mudah menggelar iklan tanpa pikir panjang. Seperti ini jadi panutan, tidak malukah?

Menyedihkan.

Namun posting artikel sekaligus mengindikasikan masyarakat diam-diam sesungguhnya sangat mendambakan kehadiran ‘Sekolah Gratis’ dan ‘SMK Bisa’ itu, dalam hal ini merakit komputer. Hal ini sudah diantisipasi SMKN1 Cimahi yang merintis belajar merakit notebook sejak awal 2009.

SMK sudah tahu merakit notebook bukan perkara gampang. Namun berkat ketekunan akhirnya mereka sanggup membuktikan diri merakit notebook! “Program perakitan laptop sudah berlangsung dua tahap dan menghasilkan sekitar 300 unit,” jelas Wakil Kepala Sekolah di bidang kurikulum SMKN1 Kota Cimahi, Mulyono. Hasil rakitan siswa, bermerk i-Getz, dipasarkan ke Kalimantan. Merk lain dimungkinkan. (Merakit Laptop Sekaligus Mendapat Uang Saku, Tribune Jabar, Mei 2009.)

Sayang potensi SMK lolos dari perhatian pemerintah daerah dan departemen kita. Tidak berlanjut, dan dengan bantuan pihak ke tiga yang menyebut dirinya “ikonus” (inisiatif komputer nusantara) perakitan dialihkan ke SMK lain di Jawa Tengah. Mulai dari nol kembali. Paling tidak model perakitan, dan pengujian, sudah dikuasai Indonesia. Secara bertahap kandungan lokal komputer akan ditingkatkan sesuai kemampuan. Rencana ruang perakitan seperti ini,

Ikonus_02Ikonus_03Ikonus_01

Akankah kapabilitas nasional yang sudah bagus ini, kali ini juga lolos dari perhatian Pemerintah baru nanti? Bukankah dengan keberadaan sarana akses informasi buatan kita yang membanggakan ini, kalau dikaji dengan benar, memungkinkan bersekolah gratis?

Tagged with: , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
6 comments on “Sebenarnya “Sekolah Gratis-SMK Bisa”, Lolos dari Perhatian
  1. Rimba mengatakan:

    saya butuh driver main board laptop merek i-Getz 1024 udah saya cari keliling dunia tapi gak ada …..tolong dunk bagi kesaya

  2. Callighan mengatakan:

    Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati.
    Sekali posting, dua topik dibahas sekaligus.

    Kalau sekolahnya dibayari penujualan laptop tetap saja bukan gratis toh?
    Tapi tak masalah lah. Yang penting, kawan sebangsa kita kreatif dan mau berusaha.

    Senang rasanya SMK semakin berprestasi. Saya senang sekali bila masyarakat Indonesia nanti bisa semakin terspesialisasi, tidak membuat terlalu banyak orang mengejar pendidikan tinggi, tetapi skill teknis yang berharga dan bisa sekaligus menghidupi diri serta membanggakan bangsa semakin dihargai baik secara finansial maupun prestise.

    Ngomong-ngomong, Pak SBY ini doyang “undang-mengundang” ya?
    Tidak apa. Yang penting kita sama-sama membagi pengalaman dan pengetahuan. Kalau di Denmark ada Jutland, di Indonesia ada lanjut.. lanjutkan prestasinya.

    Sekarang pertanyaanya.. where can I get an I-Getz?😀

    • rioseto mengatakan:

      Jawaban langsung jadi posting tersendiri. Monggo… .
      Mohon ijin untuk ikutan pasang gambar cantik yang ada di situs, ya. Terimakasih banyak.

  3. kunil mengatakan:

    Nanggung Pak.

    Sekalian dibikin jurusan QA (Quality Assurance). Ajarin metode statistik sederhana (karena dari pabrik biasanya dah ada metode QA tersendiri..tinggal jalanin aja).

    Trus butuh jurusan tele-support juga supaya bisa menangani masalah customer via telpon (seperti India dan Malaysia). Walaupun sederhana, tapi pusing juga kl menangani masalah kaya gitu via telpon (contoh: lost password..jadi ga bisa login).

    Jadi lulusan SMK bisa berguna untuk membentuk industri Indonesia yang berkualitas (QA plus technical support).

    Masalah bisa bikin, Indonesia emang jagonya. Masalah maintenance dan quality, dari dulu emang Indonesia ga pernah bisa. Masih butuh beberapa generasi untuk melahirkan pemikiran bahwa kualitas dan maintenance itu sangat dibutuhkan.

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: