Indonesia Konek 7: Sinergi (1)

callighan.wordpress.com

callighan.wordpress.com


Komentar mas Callighan di artikel sebelum ini, mendorong saya menjawab dalam
posting tersendiri di sini. Mas Callighan adalah satu rekan saya yang sangat proaktif berdiskusi di blog ini.

Komentar beliau dalam italik-biru.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati. Sekali posting, dua topik dibahas sekaligus.

Memang agak susah kalau posting di blog hanya sepotong, bukan apa-apa takut salah faham. Saya melihat “Sekolah Gratis-SMK Bisa” adalah satu topik, sebuah kesatuan. “Sekolah Gratis-SMK Bisa” merupakan action upaya kemandirian dari sebuah grand scenario yang digagas tim ‘Ikonus’ (Inisiatif Komputer Nusantara) mengantisipasi proses pembelajaran yang kelak diyakini akan sangat mengandalkan ‘kenyamanan’ teknologi IT.

Kalau sekolahnya dibayari penujualan laptop tetap saja bukan gratis toh? Tapi tak masalah lah. Yang penting, kawan sebangsa kita kreatif dan mau berusaha.


Di pikiran saya, ini adalah proyek masal (volume tinggi) mengingat populasi Indonesia yang besar. Dengan demikian biaya perangkat IT oleh “SMK-Bisa” mestinya sudah sangat terjangkau sehingga investasi sekolah, relatif kecil, dan dapat “diabaikan”. Konsep sekolah “tanpa dinding” perlu dibangun di mana masyarakat, yang tak mampu sekalipun, dapat belajar di mana saja, kapan saja.

Itu bisa kalau Indonesia konek; dengan jumlah pemakai masal, biaya koneksi juga dapat diabaikan. Investasi pendidikan termasuk pembelian komputer* agar “Sekolah (bisa) Gratis” kita serahkan ke Pemda. Pintar-pintarnya Pemda mencari cara efektif memanfaatkan kompetensi alumni semua strata (SMP, SMU, S1) ini, sebagai sebuah aset produktif sehingga investasi balik. Tentu sambil tetap fokus ke tujuan utama, membuat warganya sejahtera! Yes!… itu yang kita mau.😀

Rasanya penjelasan di atas menjawab komentar ini,
Senang rasanya SMK semakin berprestasi. Saya senang sekali bila masyarakat Indonesia nanti bisa semakin terspesialisasi, tidak membuat terlalu banyak orang mengejar pendidikan tinggi, tetapi skill teknis yang berharga dan bisa sekaligus menghidupi diri serta membanggakan bangsa semakin dihargai baik secara finansial maupun prestise.

*Jadi ada 2 kelompok komputer, (1) notebook/laptop dan (2) unit akses informasi, atau terminal, atau thin client, yang sudah dibahas pada artikel sebelum ini. (1) (2) Bahkan upaya kemandirian untuk yang terakhir, telah dirintis dengan keberhasilan mendesain sendiri motherboard CPU! Untuk notebook/laptop belum saatnya, sementara cukuplah merakit dulu. Desain tidak sesederhana terminal.

Dalam melaksanakan grand scenario, kita berbagi tugas. Perguruan tinggi melaksanakan R&D dan engineering dalam hardware & software (konten). Sisanya, industri (produksi, manufakturing), marketing & sales, layanan purna jual, training, maintenance, repair, dilaksanakan oleh tim ‘Ikonus’ yang swasta dan networknya, termasuk outsourcing teknologi.

Juga penjelasan di atas menjawab komentar ini,
Ngomong-ngomong, Pak SBY ini doyang “undang-mengundang” ya? Tidak apa. Yang penting kita sama-sama membagi pengalaman dan pengetahuan. Kalau di Denmark ada Jutland, di Indonesia ada lanjut.. lanjutkan prestasinya.

Untuk pekerjaan segede ‘gini, wah, mana bisa sendiri? Jadi kalau saya mengundang kontributor karena mengusulkan sesuatu yang memang penting dan bermanfaat seperti ‘QA’ (Quality Assurance), mengapa tidak? Jebloskan saja sekalian. Terimakasih, kita saling melengkapi. Bukankah itu kegunaan blog juga? Hehe… mudah-mudahan rekan-rekan tidak takut bertanya gara-gara ini!

Dengan sinergisme harmonis seperti ini, saya ‘kok yakin dan optimis, duet “Sekolah Gratis-SMK Bisa” bisa terwujud…😀

(terimakasih mas Callighan, mohon ijin ikutan pasang gambar di posting ini, it inspires us to get the same expression, someday; you can get ‘i-Getz’ at ‘Xware’ store next to Acer HQ, Mangga Dua, Jakarta.)

Tagged with: , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
10 comments on “Indonesia Konek 7: Sinergi (1)
  1. romailprincipe mengatakan:

    hmm..baru main ke sini..asyik juga nih, profit sharing di pemda itu akuntibilitasnya oke kan mas?dana lari ke investor atau APBD?

    Mau tanya mas, jika pemakai internet bertambah dan dalam jumlah sangat banyak, semisal 10 kali lipat dari saat ini, apakah infrastruktur Indonesia sudah mampu melayaninya? Gimana dengan jaringan brodband ataupun 3G yang masih pedat-pedot, meski salah satu provider sudah menambah kapasitas 3g nya..tetap saja punya ku putus nyambung…jika bisa massal dan tersedia layanan lumayan (semisal 1 mbps) saya yakin banyak pengaruhnya ke ekonomi masyarakat. Tapi ada juga efek negatifnya, hacking dan download yang memakan bandwith serta membuat moral hancur ataupun situs-situs torrent dan crack semakin sering diakses, sehingga informasi dan virus akan mudah nyelonong dan bisa saja berbahaya kan? asal tidak pakai komputer kantor aja…

    agak gak nyambung sih..hehe

    salam hangat

    • rioseto mengatakan:

      Dana investasi/pembangunan bisa dari investor atau Pemda. Sebaiknya Pemda; artikel “Sebenarnya ‘Sekolah Gratis-SMK Bisa’, Lolos dari Perhatian” sebenarnya ditulis berdasarkan pengalaman nyata di mana Pemda mengundang investor dari luar. Tidak jalan; investor tidak betah… Mas Romail pasti lebih tahu sebabnya.

      Jumlah pelanggan masal seharusnya dilihat sebagai potensi bisnis yang sangat menjanjikan (menguntungkan). Jadi kalau tidak diiringi dengan kualitas layanan yang baik, provider lain yang masuk… sederhana, ya. Kaitan pemakai internet dengan pertumbuhan ekonomi? Banyak artikelnya, silakan cari. Nanti kapan2 juga akan saya bahas.

      Soal ekses negatif, pasti ada; sukar dihalangi 100%, paling cuma dihambat dengan rambu-rambu software yang serba terbatas. Itulah karakter manusia, serakah, iri, ‘ndak bisa liat orang lain seneng…

      Membangun mindset yang baik sehingga semua yang negatif dipandang dan diterima sebagai sesuatu yang positif, itu perkara lain… jaka sembung, ndak nyambung dengan artikel ini, ya!

  2. callighan mengatakan:

    Jadi sebenarnya progam SMK-Bisa itu apa?
    Apakah sekolah yang berbiaya rendah karena di-offset penjualan laptop.
    Ataukah sekolah yang murah karena biaya yang dikeluarkan hanya biaya laptop dan internet yang digunakan secara mobile tanpa gedung sekolah?

    • rioseto mengatakan:

      Pendapat terakhir yang paling pas.

      “SMK-Bisa” menunjukkan, dengan ‘SOP’ (Standard of Procedure) yang baik, manufaktur laptop/notebook sangat mungkin dilaksanakan oleh SMK di daerah.

      Hak penjualan laptop/notebook bukan berada di SMK tetapi di Pemda, karena Pemda berinvestasi. Dengan menerapkan solusi total, Pemda memikirkan semuanya sejak investasi prasarana dan sarana, termasuk laptop/notebook, hingga ke proses konversi “bahan baku” (siswa) menjadi produk akhir yang bernilai tambah (value added) atau manfaat, yang diperlukan pembangunan daerah.

      Dengan Indonesia konek, keberadaan laptop/notebook dan internet selain vital bagi proses konversi (bisa dinamik/mobile atau statik), juga diharapkan membantu menekan biaya sekolah serendah mungkin. Kalau ikatan dinas seharusnya bisa gratis, ya.

      • Callighan mengatakan:

        Ooh, jadinya SMK-Bisa adalah SMK yang dibiayai oleh Pemda dengan cara mempekerjakan siswa SMK untuk membuat laptop dan menjualnya?
        Lantas, imbal baliknya para siswa dapat belajar secara mobil melalui laptop dan internet?

        Wah.. akan memasuki wilayah hukum perburuhan nih..

        • rioseto mengatakan:

          @Callighan
          Betul SMK dibiayai Pemda, dan program “SMK Bisa” baru di tahap Unit Produksi, yaitu membuat/memproduksi.

          Kalau Pemda cerdas, diciptakan SMK Manufaktur dan SMK ‘Entrepreneur’. SMK Manufaktur adalah SMK yang khusus menekuni aspek teknis untuk produksi. Biasanya buat 1-100 bisa, tetapi 1.000, 10.000, 100.000, nanti dulu. Sekarang SMK harus bisa. Kepercayaan itu, dan rejeki sebagai akibat, penting. Hehe…

          SMK Entrepreneur berpikir aspek ekonomis. Di SMK ini ada Unit Jual, juga Unit After Sales/Customer Support untuk melayani Installation, Operation, Maintenance, dan Repair. Mau ditambahi Unit HRD untuk Marketing, Training dan kursus menguasai hardware, software dan program aplikasi, juga bisa. Belum lagi Unit Iptek Daerah untuk meningkatkan nilai tambah komoditi unggulan daerah (agro, wisata, dll.), juga bisa.

          Tinggal berbagi tugas antara guru, siswa, dan Pemda.

          Sepertinya tidak mungkin, terlalu idealistik; tetapi menurut saya kebalikannya, ini workable, implementable. Memang di sini syarat dan ketentuan berlaku, yaitu program didasari konsep ‘Berbagi, Tidak Merugi’. Hehe… jangan serakah, kuenya terlalu besar untuk dimakan sendiri. Kegiatan ekonomi bergulir sudah seharusnya dipikirkan sejak di bangku sekolah; siswa dapat ilmu, juga uang saku.

          • callighan mengatakan:

            Bagus lah konsepnya.
            Cocok dengan konsep SMK sebagai lembaga pendidikan profesional.
            Kalau dulu ada program seperti ini, mungkin saya akan sekolah di SMK.🙂

            Aber gratis?
            Nicht gratis, aber kostet billig.

          • rioseto mengatakan:

            Setuju, tidak ada yang gratis, dibayar/ditukar dengan waktu…

  3. Mr.o2n mengatakan:

    Numpang lewat aja mas,sekalian mau nanya,ada hubungan apa mas dengan callighan,soalnya aku barusan dari sana dan singgah kesini.maju terus teknolog dan informasi indonesia

    • rioseto mengatakan:

      Kemana saja mas Jumal? Semoga blognya juga semakin maju.

      Mas Callighan berkomentar di posting sebelum ini…. karena penting, jawaban dibuat artikel tersendiri.
      😀

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: