Memajukan Dusun Kahuripan: Teknologi

Panorama-1-02 jpg

Dusun Kahuripan (posting sebelumnya) masih berstatus tertinggal, masih berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian warga mulai berpikir untuk bermigrasi ke kota besar mengejar kehidupan yang lebih baik. Namun mendengar pernyataan pak Urip, kepala dusun, yang ingin memajukan dusun harapan besar timbul kembali dari warga dan bersemangat untuk mendukung penuh gagasannya.

Pak Urip dihadapkan hanyapada satu pilihan untuk mencegah warganya ke luar, memakmurkan dusun! Potensi apa yang dimiliki dusun? Sebenarnya banyak aset dusun yang belum diperlakukan warga sebagai sumber penghasilan yang berpotensi memakmurkan dusunnya. Singkong, misalnya; belum kelapa dan hasil dari ternak unggas. Dengan tanya sana tanya sini pak Urip mencoba membuat corat-coret potensi singkong yang disimpan di berkas ‘Singkong’, dan potensi kelapa yang diurai menjadi gambar seperti ini,

Technoware-Coco jpg

Semua bagian memiliki nilai, semua adalah “emas” berkadar mulai 14, 18, 22, hingga 24 karat. Tak ada yang tidak bisa dijual, pasar pasti menyerap. Terhenyak sejenak; setiapkali nilai hendak dinaikkan, pasti perlu teknologi pengolah yang lebih baik  atau canggih. Bagi warga, teknologi, jangankan faham, melihat dan mendengar saja belum.

“The quality of our lives, both at home and at work, is largely dependent on technology – the science of industry – which itself dependent on scientific research for progress.” (The Illustrated Encyclopedia of Science and Technology, Exeter Books, 1979.)

Kualitas hidup kita, di rumah dan di tempat kerja, sangat bergantung kepada teknologi (sebuah pengetahuan tentang keindustrian), yang kemajuannya bergantung kepada hasil riset ilmu pengetahuan.

“ It is technology which contributes to development while science may cause technological advancement. Technology must be useful today for a better tomorrow and the science of today could be the technology tomorrow. However unlike science, technology is not open!.” (Technology Atlas Project, ESCAP, 1989.)

Teknologi itu sebenarnyalah berkontribusi terhadap pembangunan, sedang ilmu pengetahuan memajukan teknologi. Teknologi haruslah bisa bermanfaat sekarang untuk mencapai hari esok yang lebih baik, sementara ilmu pengetahuan sekarang haruslah menjadi teknologi untuk hari esok. Namun tidak seperti ilmu pengetahuan, teknologi tidaklah terbuka! (Maksudnya tidak gratis, harus beli itu pun kalau dijual.)

Technology-based development planning must be by choice and not by chance. It can be achieved by conviction, determination, resolve and, above all, strong political will – a will to chart the future of one’s country using technology as a means for development.” (Technology Atlas Project, ESCAP, 1989.)

Perencanaan pembangunan berbasis teknologi harus melalui seleksi, bukan karena yang tersedia hanya itu semata. Seleksi diperoleh melalui kajian penuh perhitungan, keyakinan atas solusi yang ditawarkan, pengambilan keputusan bijak,  dan lebih penting dari kesemua itu, itikad atau hasrat yang besar untuk mau maju,  keinginan untuk menoreh masa depan cerah dusun menggunakan teknologi sebagai piranti bantu pembangunan.

Semuanya hanya berceritera tentang satu hal, teknologi adalah kunci pembangunan. Titik.

Pak Urip percaya temuannya di atas tadi, yang diperoleh dari buku “primbon” kuno tentang teknologi, masih tetap relevan untuk  pembangunan dusun. Beliau tidak tergesa-gesa; warga dusun harus diajak sarasehan, berdiskusi, tentang niatnya menghadirkan teknologi  memajukan dusun. Pelan-pelan, karena teknologi ternyata juga ada 7 kelas.

Technoware-TabelNamanya dusun miskin, mana bisa melakukan investasi teknologi? Pak Urip mengambil strategi, semua tahapan teknologi akan dijalani, mulai dari yang padat karya penuh “otot” hingga padat modal (teknologi) yang sarat dengan “otak”. Paling penting bertepat guna dan menghasilkan; kalau pun harus canggih, maka canggih ala dusun Kahuripan!

Tidak apa berangkat dari manual dulu, tak ada akar rotan pun jadi. Eh, terbalik. Begitulah pembangunan dusun Kahuripan dimulai dari aset yang ada, singkong, kelapa, dan ayam.

Technoware-FAO 2009 jpg Program FAO yang mencanangkan tahun 2009 sebagai “Tahun Internasional Serat Alam” (International Year of Natural Fibres, IYNF) sudah tidak mungkin lagi terpenuhi karena tahun 2009 akan segera berakhir, namun paling tidak program berhasil memicu kepala dusun mengambil inisiatif mengangkat 3 hasil bumi dusun tadi sebagai unggulan ketahanan ekonomi dusun, sekaligus mencegah warga exodus ke kota dengan mengupayakan dusunnya menjadi sebuah surga.

Koleksi pustaka dusun Kahuripan (tidak perlu beli):

1. Singkong
2. Kelapa 1
3. Kelapa 2

Tagged with: , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
One comment on “Memajukan Dusun Kahuripan: Teknologi
  1. […] Kahuripan-1 2. Kahuripan-2 * PDCA = Plan-Do-Check-Act (Rencana-Coba/Kerjakan-Periksa-Tindak); SWOT atau kebalikannya TOWS: […]

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: