Free trade? Siapa takut, Kita Punya “TTS”!

Sebentar lagi ada banjir jenis baru ikut meramaikan musim banjir di negeri ini. Kesepakatan perdagangan bebas (free trade) yang segera diberlakukan 1 Januari 2010 akan membuat produk Cina berlimpah ruah membanjiri pasar kita. Banjir biasa sudah cukup menyusahkan kita, perlukah bertambah dengan banjir produk ini?

Sepantasnya banjir ini tidak ditakuti, menyenangkan malah, produknya tak kalah bagus lagi murah, dan lumayan bermanfaat.

Namun banjir produk bisa membawa malapetaka. Betapa tidak, produk segera jadi sampah. Tak peduli dampak negatif sampah yang diakibatkannya, perdagangan bebas seolah membuka kesempatan mendorong semua pihak berbondong-bondong menggunakan teknologi sebagai senjata memenangi lomba menguasai ekonomi bumi ini… , siapa kuat dia menang, siapa jaya dia raja! Haduh.

Ooh, begitu? Nanti dulu. Ini tidak adil, ini berat sebelah. Seperti rantai makanan saja, yang besar dan kuat akan memakan yang kecil dan lemah? Pandangan kecil dan lemah yang biasa dipakai simbol ketidakberdayaan atau ketidakmampuan melawan itu, keliru. Dibalik kekecilan dan kelemahan pasti ada kebesaran, kekuatan, kehebatan yang tidak dimiliki atau terpikir si besar atau si kuat.

Hal ini sudah dilakukan dan diantisipasi lama. Tak banyak yang tahu ada sekelompok anak muda gila dan kreatif, habis-habisan menggeluti teknologi produk yang masuk ke negeri ini. Biarlah orang berpikir kita pandir, biarlah orang mengira kita tak sanggup apa-apa. Teknologi yang dimaksud adalah telepon genggam. Kelompok tahu “isi”nya, sanggup mengubahnya jadi perangkat apa saja! Wow.

Benar, yang dikembangkan anak muda ibarat TTS (teka-teki silang), mengisi jawaban di kotak kosong. Produk dibedah, diamati, dipelajari, dikaji, diuji, horee… ‘jebol‘, istilah mereka! Kotak “kosong” TTS terisi sudah, tahu cara kerja telepon, tahu hardware, tahu software, tahu kutak-katik tambah komponen. Itulah tumpang sari! Mau dijadikan apa berkomunikasi telepon melalui radio FM, bisa; mendeteksi detak jantung, bisa; memantau kondisi mobil? Bisa. Menyalakan memadamkan lampu rumah? Kecil. (Hehe.. sombong juga ‘nih anak-anak, narsis, sekaligus membanggakan.)

Cerdas nian anak bangsa ini! Inisial TTS akhirnya dipungut dan berubah arti, “teknologi tumpang sari” disingkat “TTS”.

FTA, siapa takut? Anggap FTA anugerah, ajang berlatih sangat bagus membuat kita lebih cerdas! Lebih baik dari yang empunya teknologi, lebih bagus dari yang empunya komoditi. Tugas kita, menggeser dan membalik perilaku kita dari konsumtif ke produktif, membalik mereka dari produktif ke konsumtif, maksudnya menggiring para produsen global berminat  “belanja” kepada kita meminta dibuatkan program untuk produknya. Mengapa tidak? (Win-win solution, score imbang satu-satu.)

Kekuatan “TTS” terletak pada kekuatan kolektif, yang digalang dari kekecilan dan kelemahan teknologi yang tidak kita miliki, mengandalkan kreativitas (dan inovasi) aset sekian juta rakyat Indonesia.

Inilah dampak teknologi baru yang tercipta akibat FTA, “TTS”. Bisa dipatenkan?

[ Catatan kecil: ada 1,000+ “industri” perbaikan telepon genggam di seluruh Indonesia (Jawa Barat 360, di Bandung saja 200); saat tulisan dibuat kelompok sedang belajar keras mempelajari telepon genggam baru berbagai merek yang akan diluncurkan 2010. Ada pertemuan akbar tanggal 6 Maret 2010 di Bandung. Salut! Tertarik meliput? Hehe.. perlu undangan khusus. ]

Tagged with: , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
13 comments on “Free trade? Siapa takut, Kita Punya “TTS”!
  1. […] Iya, mengapa tidak? “Babe” (barang bekas) dan teknologi tumpang sari (TTS, lihat Free Trade Siapa Takut… dan Potensi Ekonomi Produk Adonan “Hi-Tech” Kita), memberi jalan untuk berani bertarung di […]

  2. wasis roybavi berkata:

    aku bloger pemula, tapi umur agak kadaluwarsa.jadi sangat banyak kekurangan yang aku miliki. tapi aku sangat antusias dengan dunia elektronik sejak smp. karena sekolahku dulu di kampung dan tak ada pelajaran elektronik akhirnya aku belajar otodidak. tapi itupun masih jauh dari bisa. hanya sekedar tahu. aku sudah beberapa kali mampir ke blog ini meski gak komen. begitu aku ikuti dan perhatikan, memang blog yang kayak ginilah yang saya cari. bukan blog di depan yang cuma berisi sampah. sayang blog ini jarang nongol di depan, mesti nyari dulu kedalam. lebih dari itu, banyak pelajaran yang ingin aku serap dari mas rioseto. dan hidup pemuda indonesia, kapan lagi kita nyalip di tikungan, kalo tidak mulai dari sekarang.

    • rioseto berkata:

      mas Wasis, senang mendengar suaranya yang begitu menggebu-gebu; dalam 6 bulan ini memang kami sedang menyusun materi pelatihan bengkel hape untuk semua tingkatan. nanti kalau sudah selesai pasti diumumkan di blog ini. mari kita berdoa bisa menyalip di tikungan (dengan selamat!). hehe…
      salam
      😀
      (sekarang sedang belajar apa, programing mikrokontroler?)

  3. […] TTS, tumpang sari by rioseto Ada-ada saja, produk adonan apalagi ’sih? Lanjutan posting sebelum ini mengantisipasi banjir produk ponsel yang sebentar lagi  menggenangi pasar kita. Anugerah atau […]

    • rioseto berkata:

      memang ingin sekali SDM “montir” ini bisa jadi kekuatan kita melawan ekonomi global (free trade).. (hmm, perlu pendamping jagoan nih).

  4. bayu putra berkata:

    bener pak…anak bangsa juga banyak yang kreatif pak…tidak hanya di bandung pak..di Ampah juga (Ampah, Kecamatan Dusun Tengah, Kalimantan Tengah).. anak-anak SMA yang tidak menyambung sekolah juga banyak yang buka perbaikan HP (Service HP) dan kualitas serta mutunya juga Ok punya pak … katannya sih berawal dari kotak-katik gitu aja..akhirnya kursus..terus banyak membuka usaha sendiri di Dusun kecil yang indah ini pak…salam…Maju Terus Indonesia, Maju terus Anak Bangsa…salam pak..

  5. rioseto berkata:

    halo mas romail… apa kabar, kemana aja?

    ide posting adalah membangun usaha/industri dari “mundur” (after sales service) seperti yang mas romail utarakan. kembangkan kepakaran bongkar-pasang-perbaikan semua produk IT biar tidak tertinggal.

    kalau sudah pintar kutak-katik cari fitur apa yang bisa di-tumpang-sari-kan alias di”add-on” di produk untuk menaikkan nilai.

    motherboard axioo, zyrex, … belum buatan kita; bukan ‘ndak bisa, hanya masalah skala ekonomi agar bisa bersaing. kalau trampil bongkar-pasang kita bisa kaget, 5 notebook branded memakai m.b. yang sama! bedanya cuma di lubang luarnya saja.

    berminat? mungkin artikel ini akan saya ulang dengan kemasan bentuk lain..
    😀

  6. romailprincipe berkata:

    mau dong masuk blogroll nya mas rioseto.. 🙂
    mudha-mudahan perangkat keras IT semakin diproduksi massal dan karya anak bangsa. jangan lupa after sales service yang jadi kelemahan selama ini..
    terbukti dengan axioo dan zyrex VS Acer toshiba, dll kan?
    bener gak?

  7. and1k berkata:

    wah saya belum paham yang kayak beginian.

    salam kenal

    • rioseto berkata:

      mas and1k… ada cerita bengkel ponsel diusahakan anak yang tamat stm (kejuruan) pun tidak; tetapi kemauan keras belajar membuat anak ini berhasil sampai punya 4 bengkel!

      intinya, mas and1k usaha apa saja, pasti bisa, meski pengetahuan (sekarang) belum mencukupi. semangat tinggi, kemauan tinggi, pasti bisa! kalau nanti ada kursus 2-hari di kota terdekat mas and1k, dikasih tahu ‘deh. coba dulu. okee…?

      terimakasih kunjungannya, salam kenal juga 😀

    • rio seto berkata:

      mau komen di blognya mas Andik, eror terus kenapa, ya? 😀

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Translate • Terjemahkan
Foto Minggu Ini
Boneka Jepang Geisha

Belajar memotret boneka dengan lampu kilat

%d blogger menyukai ini: