Obesitas dan Celengan

Here I am… it’s a new day, it’s a new world, it’s a new way of thinking, it’s a new plan, which I’ve been waiting for long.

Menghubungkan obesitas dengan perang ekonomi  di bagian akhir artikel kemarin sepertinya terlalu mengada-ada.  Benar, tetapi tidak sepenuhnya; cobalah tebak bisnis apa yang akan marak dengan kian banyaknya orang gendut di dunia? Pasti bisnis yang langsung atau tak langsung berurusan dengan melangsingkan tubuh! ‘Nah itu.

Tinggal sebut bisnis apa, obat pelangsing, makanan berlabel ‘organik’, perangkat fitness dan pengukur kebugaran, operasi medis (kalau kelewat ‘ndut), hingga asuransi kesehatan.
Bisnis transportasi boleh jadi ikut-ikutan ambil untung dengan memungut biaya tambahan dari penumpang yang melampaui ambang batas berat atau ukuran kursi! Kasihan (penumpang).

Masih banyak lagi bisnis ‘ndut’ lainnya, yang pasti, industri garmen panen raya menjual pakaian, luar dan dalam, berukuran luar biasa besar, ‘XX..XL’! (Seperti apa ya ukuran 8 ‘X’.)

Terjadilah perang ekonomi, siapa kuat dia menang, siapa menguasai iptek (ilmu pengetahuan & teknologi), dia unggul.

Begini akibatnya kalau makan lepas kendali. Keinginan agar praktis, serba cepat syukur bisa instan, menjadikan kita kalap; makanan dan minuman apa saja, ‘sampah’ pun tak peduli, dilalap habis. Begitu tubuh mulai ‘ginuk-ginuk‘, per jarum penunjuk berat badan ‘tring!’ putus, kaget. Mobilitas turun drastis, napas mulai tersengal, kepala terasa pening, perut mual, tidur tak nyenyak, detak jantung mulai tak jelas, kaget. Badan tak ubahnya seonggok daging tergeletak tak berdaya. Bruk! Ndut‘ berubah berganti menjadi siksaan, bukan lagi pertanda kemakmuran.

Tak ayal lagi perilaku berakibat ‘ndut’ ini membuka peluang bisnis besar bagi yang jeli seperti yang disebut di atas tadi.

Dahulu iya, ‘ndut‘ identik dengan makmur; itu sebabnya babi, mungkin, ternominasi jadi celengan. Makanannya adalah ‘duit’, yang biarpun receh bernilai sen tetapi dengan rajin dan tekun dikumpulkan, “sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, sehari seutas benang setahun sehelai kain“. Jadi gendut, makmur,  diperoleh melalui satu sifat baik babi, kerja keras.

Sekarang ukuran makmur berubah. Jumlah receh maunya sekaligus banyak, ‘sen’ berganti ‘jut’ atau ‘yar’, uang ‘sampah’ tak masalah, yang penting “RTGS*, instant, cash and carry!“. Lalu celengan babi? Pensiun dini tak terpakai lagi. Celengan babi pengganti untuk receh sebanyak itu hanyalah rekening bank. Satu kesamaan, bisa ‘ndut’ juga, makmur, namun sayang diperoleh melalui  sifat buruk babi, rakus!

Apakah rekening ‘ndut‘ membuat nafas tersengal, jantung berdebar tak beraturan, tidur tak nyenyak, stres si empunya? Oh t.tid..tidak, ..eh iya, ..ah entahlah. Yang mana?

😀 I am back!

* istilah transfer uang dalam dunia bank, real time gross settlement, dimana kiriman uang sampai seketika di bank tujuan (di seluruh dunia).

Tagged with: , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
2 comments on “Obesitas dan Celengan
  1. orokbadoey mengatakan:

    Boro-boro punya celengan ‘ndoet juragan bagawan , boewat makan ditambah ongkos sekolah anak-anak sehari hari saja sudah susah juragan. Saya kere yang pengangguran tulen asli pisan kawe satu. Nggak kepikiran celengan ponggawa2 ituh ,katanya sampe em-em-an.
    Ngisi celengan dapet dari mana yah. Wong bekas senopati utama saja ,upah bulanannya dibawah 10yuta perak waktu masih aktif. Kembali eSDeeM nyah ,sistem,dan ahlaq-noeraninya barangkali yang harus segera berubah. Mulai dari diri sendirinya saja , awalnya juga baik. ahirnya juga harus baik. Monggo Bagawan uwar-uwar ,wawar lewat blog. selamat berjoewang.

    • rioseto mengatakan:

      he.he.he… tidak baik mengecilkan diri sendiri, kata orang sunda, ‘pamali’; habis gelap terbitlah terang, kata bunda tersayang Kartini, …percaya hari itu akan tiba!

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: