Camcorder atau Digicam?

Tak lama lagi video akan jadi bagian blog kita. Satu-satunya hambatan adalah teknologi interkoneksi yang masih lambat menayangkan informasi video. Ingin cepat, biayanya belum terjangkau. Seiring waktu, interkoneksi kian cepat dan ekonomis sehingga tayangan video di blog bukan masalah lagi. Kita tunggu saja. Sementara itu kita bersiap-siap dulu belajar video dari sekarang…

Masih buta masalah video, terlebih soal rekam-merekam menggunakan ‘camera recorder‘ atau lebih populer disebut camcorder (bahasa indonesianya apa ya?).  Lho, bukankah kamera digital yang bahasa kerennya digicam, bisa juga merekam?

Pertanyaan pembuka yang bagus. Penjual toko kamera pun seringkali memberi penjelasan teknis berlebihan ke kita yang awam; kita hanya bisa manggut-manggut pura-pura mengerti. Malu bertanya sesat di jalan, sudah bertanya masih dungu juga. Kita coba bertanya sajalah kepada akal sehat kita.

Fungsi berbeda. Fungsi pokok digicam adalah merekam foto, camcorder merekam video. Data hasil rekaman video jauh lebih besar dibandingkan data rekaman foto sehingga memerlukan tempat simpan data atau memori yang jauh lebih besar juga. Jadi besar kapasitas memori terpasang di masing-masing berbeda.

Kualitas berbeda. Citra (gambar, image) dibentuk oleh lensa, cahaya (obyek), dan tabir penangkap citra. Lihat gambar.  Untuk memperoleh hasil berkualitas, ketiganya harus ‘sempurna’; lensa harus bagus, cahaya harus cukup, tabir penangkap citra harus peka menampung semua informasi citra yang berhasil ditangkap lensa.

Dari sini kita mencoba menebak kualitas gambar yang dihasilkan kamera ‘maxi’ dengan lensa gagah besar (sangat mahal), ‘midi’ kelas kamera saku, dan ‘mini’ seperti ponsel. Ukuran fisik lensa ternyata tidak berpengaruh langsung terhadap kualitas, tetapi berdampak pada banyaknya cahaya yang masuk dan jatuh di tabir. Ukuran lensa kecil, jumlah cahaya lebih sedikit, detil obyek hilang (hijau muda misalya sukar dibedakan dengan hijau tua), kualitas gambar menurun. Lihat gambar di bawah (banyak sinar dinyatakan dalam garis).


http://www.digital-photography-school.com

Digicam hanya merekam obyek diam, dengan jumlah cahaya detil bisa terekam baik. Kualitas gambar bagus. Camcorder merekam obyek bergerak; jumlah cahaya dari obyek yang berhasil ditangkap tabir relatif lebih sedikit. Detil berkurang, kualitas gambar video menurun. Karenanya lensa camcorder rata-rata lebih besar (dan berat) agar bisa menangkap cahaya lebih banyak. Dibantu lampu sorot untuk cahaya tambahan, kalau perlu.

Satu lagi penentu kualitas citra adalah tabir. Tabir dipenuhi sensor cahaya yang berfungsi mengubah cahaya menjadi citra elektronik. Ukuran tabir dinyatakan sebagai resolusi dalam megapiksel atau Mp, misalnya 640 piksel x480 piksel identik dengan 0.3 megapiksel, 1600×1200 sama dengan 2 Mp,  3264×2448 adalah 8 Mp, dan seterusnya.

Digicam menggunakan resolusi tabir sebagai penunjuk kecanggihan. Proses konversi citra pada digicam mirip seperti kita mencetak atau cap/stempel. Citra di tabir langsung diubah dan disimpan di memori. Instan.

Camcorder tidak menggunakan resolusi tabir untuk kecanggihan. Citra pada tabir tidak dikonversi instan seperti digicam melainkan dengan scanning, baris demi baris. Kecepatan scan, dalam megabit per detik (Mbps), adalah ukuran kecanggihan camcorder.  Contoh 2 camcorder dengan tabir sama 1920 x 1080 (2 Mp), satu memakai kecepatan scan misalnya 15 Mbps, satu lagi 24 Mbps.  Kualitas video terbaik dihasilkan scan 24 Mbps. Camcorder ini lebih canggih.

Camcorder atau Digicam? Dari konsep cara mengkonversi citra, kita sudah bisa menerka mengapa camcorder lebih mahal dibandingkan digicam. Prosesnya lebih rumit. Jadi digicam yang dilengkapi merekam video hasilnya tidak akan bisa sebaik hasil rekaman camcorder, sebaliknya, foto yang di’jepret’ camcorder tidak akan sebaik digicam.

Jadi camcorder atau digicam, banyak berfoto ria pakailah digicam, sering-sering bervideo gunakan camcorder, kalau dua-duanya, ya punya dua!

He.he.he, silakan dikaji kebenarannya, ini ‘kan penjelasan akal sehat kita.

Mau beli camcorder untuk eksperimen ‘ah… jaga-jaga buat video di blog nanti, sekarang belajar dulu lalu diposting artikelnya, okeh?

:D  mau melamar jadi penjaga toko kamera

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: