Proyek 01: Rencana Bisnis Temulawak

Why — temulawak? Temulawak adalah tanaman unggul khas Indonesia dengan 1001 khasiat kesehatan. Satu khasiat adalah peningkatan imunitas atau kekebalan, yaitu naiknya daya tahan tubuh kita terhadap penyakit. Kalau biasa terkena pilek sekali dalam 3 bulan, kini sekali dalam 6 bulan bahkan sekali setahun.

Sayang paten global temulawak hasil riset yang sempat menggegerkan kita itu (sebentar), bukan hasil jerih payah anak bangsa! Baca beritanya di Kompas, “Temulawak Dipatenkan Asing“.

Lihat halaman terakhir kliping “Curcumin Derived From Tumeric“. Ada tabel menunjukkan jumlah penderita kanker bukan pengguna temulawak di Amerika dan pengguna temulawak di India. Lebih banyak pasien sakit juga meninggal karena tidak mengkonsumsi temulawak.  Adakah paten tadi terkait kiat Amerika menguasai bisnis temulawak dunia sambil menekan penderita kanker meniru India?

Hebat temulawak kita ini. Temulawak harus diangkat martabatnya. Siapa lagi kalau bukan kita!

Rencana Bisnis Tahap Awal

Who — pertanyaan klasik, dari mana mulai? Tentu saja mengumpulkan informasi. Saya awam di dunia ini tapi punya teman baik yang pakar dalam dunia farmasi dan bioteknologi. Kedua teman pasti punya teman lagi, dan teman tadi pasti punya teman juga. Mereka pasti punya informasi.

What — benar saja, dengan pendekatan gaya ‘Menjadi Bilyuner #2 (Bill Gates)‘, seluk-beluk temulawak mulai kondisi lahan/tanah, iklim, jenis bibit, “makanan” alias pupuk, penyakit, hama, penanggulangan, kapasitas produksi, pasca panen, proses (dari bahan baku jadi bahan layak obat), uji klinis, aplikasi atau pemanfaatan, sertifikasi dan ijin penjualan dari departemen kesehatan, hingga fabrikasi, semua berhasil diperoleh.  Beruntung sekali saya. Dengan informasi ini 1/3 atau 33% dari perencanaan bisnis total, dianggap selesai.

Where — ke mana menjual? Inilah satu-satunya kelemahan kita, pemasaran. Mereka yang hidup di dunia riset terisolasi, tidak atau jarang kontak dengan dunia komersial di luar sana. Sayang hasil riset sampai tidak diamalkan untuk kepentingan manusia.  Horee.. ini berarti peluang, biar saya jadi “jembatan”nya! ‘Where‘ masih belum terjawab.

Rencana Bisnis Tahap Akhir

Masih 2 pertanyaan lagi harus dituntaskan, ‘When‘ dan ‘How‘. Untuk ‘When‘ (kapan bisnis dimulai) akan terjawab setelah ‘Where‘ dan ‘How‘ terjawab.

Where — survai pasar, dengan mendekati pihak-pihak yang berkepentingan atau terkait temulawak. Tentu saja sasaran utama adalah industri farmasi, industri kosmetika, industri makanan & minuman, industri kimia, perdagangan umum. Gambar atas contoh survai pasar yang didapat dari internet. Lihat iklan atas, permintaan temulawak datang dari India!

Kunjungan ke pameran lebih baik, karena terjadi kontak langsung dengan para pelaku pasar potensial. Foto di samping adalah ekspo ajang jual-beli obat tradisional di Hong Kong bulan Agustus lalu. Ekspo dikunjungi untuk mengenal medan bisnis lebih baik.

Data yang didapat menjadi rujukan penting menghitung besar pasar yang akan kita layani kelak.

‘Lho katanya modal dengkul. Itulah hebatnya dialog ‘Menjadi Bilyuner #2 (Bill Gates)’ ..ada sponsor yang mau membayari! (‘Pet uang saku lagee.) Imbalannya cukup informasi hasil kunjungan. Mau dia.

How — adalah tahap terakhir. Sedikit lagi bisnis ‘mo-dul‘ selesai jika urusan pelaksanaan teknis sudah diperoleh. Survai dilakukan untuk mendapatkan informasi perihal sewa-menyewa lahan ‘tidur’ yang cocok ditanami temulawak, sumber pasokan bibit unggul temulawak, transportasi, upah petani dan buruh, penyimpanan, kemasan, energi, dan hal perlu lainnya untuk kelancaran pelaksanaan bisnis.

Dengan informasi lengkap ini pekerjaan 75% selesai. Rencana hampir matang. Masih ada satu ‘How‘ tersisa yaitu dana pembiayaan. Kita susun proposal Rencana Bisnis yang baik dan presentasi yang bagus, disajikan dalam bahasa lugas yang mudah dicerna dan difahami oleh yang empunya duit. Pekerjaan 90% selesai. Sisanya 10% adalah ‘walking’ and ‘talking’ berkeliling mencari sponsor yang bersedia membiayai bisnis. Dan hasilnya…

Horee.. sukses! Bisnis ‘mo-dul’ kita mulai menggelinding, ‘When‘ pun terjawab.

Model Bisnis ‘Mo-dul’

Tiga butir penting ekstraksi proyek percontohan temulawak di atas menjadi model bisnis ‘mo-dul’ alias modal dengkul kita,

  1. Membangun jejaring (network) pertemanan dari berbagai bidang. Fondasi kokoh bisnis diawali dari dunia sosial alias gaul.
  2. Memposisikan diri jadi jembatan yang baik antara dunia riset dengan dunia komersial. Menutup kesenjangan kedua dunia adalah peluang bisnis! Keberhasilan bisnis adalah pintar-pintarnya kita me”nyeberang”kan informasi dari dunia ilmu ke dunia komersial. Tekniknya…
  3. Menguasai kepiawaian berkomunikasi, berkata-kata dengan gaya ‘Menjadi Bilyuner #2 (Bill Gates)’.

Penutup

Pintar bergaul, cerdas meng’konek’kan informasi, cerdik ber’pokrol bambu’, itulah modal utama kita berbisnis, ditambah dengkul jangan lupa, he.he.. . Model bisnis ‘mo-dul’ murni gagasan sendiri, tidak ada bukunya tidak ada sekolahnya. Tak bermodal materi (uang) bukan alasan tidak bisa berbisnis. Berani mencoba itu motivasinya, meyakini berbisnis adalah satu pekerjaan mulia, “menjadi tangan yang di atas”..untuk saling menolong sesama.

:D  (benar-benar modal dengkul; baru mulai tanam percobaan, tunggu hasil)

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , ,
Ditulis dalam Tak Berkategori
4 comments on “Proyek 01: Rencana Bisnis Temulawak
  1. Deni Subara mengatakan:

    kebetulan saya mendapat tugas untuk proses pengolahan temulawak / kunyit menjadi curcumin mas…terimakasih mas atas bantuannya…doakan saya juga bisa membuka usaha ini.

  2. Deni Subara mengatakan:

    salam mas,,,saya tertarik dengan artikel mas. disini saya ingin bertanya tentang proses pengolahan kunyit / temulawak hingga didapatkan curcumin, dimana bisa didapatkan,,,karena setelah saya searching di internet, tidak ada artikel yang membahas itu. saya mohon imfo dari mas.terimaksih sebelumnya.salam DENI

    • riosetoblog mengatakan:

      Mau dipasarkan ke mana? Di Bogor ada pak Arsil dari Balitro (Balai penelitan tanaman rempah dan obat), di Bandung ada Prof.Sukrasno Farmasi ITB. Bahan baku ada di Sukabumi…

Silakan komentar, 'like' juga oke

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: